Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Studi: Orang Berusia 35 Tahun Belum Miliki Rencana Keuangan


GoBear Financial Health Index (FHI) mengungkap mayoritas penduduk Indonesia berusia 35 tahun belum memiliki perencanaan keuangan sama sekali. Bahkan, sebagian besar responden baru menyiapkan rencana pensiun di usia 41 tahun.

Sebanyak 29 responden merasa waktu yang paling tepat untuk mulai merencanakan keuangan adalah setelah menikah. Perencanaan keuangan muncul seiring dengan rencana pendidikan anak.

Lebih dari itu, hasil survei juga mengatakan hanya 37 persen responden yang mengklaim mampu memenuhi kebutuhan hidupnya selama lebih dari enam bulan setelah kehilangan sumber pendapatan utamanya.

Country Director GoBear Indonesia Tris Rasika menuturkan penduduk Indonesia merasa kondisi keuangannya masih sehat karena budaya 'ATM Colek' di mana dukungan keuangan dari keluarga dan kerabat masih ada, ketika mereka kehilangan sumber penghasilan utamanya.
Data menunjukkan sebanyak 43 responden mendapat dukungan kebutuhan kecil dari keluarga, 35 persen responden mendapat dukungan kebutuhan besar dan sedang, 3 persen mendapat dukungan kebutuhan ekstrim. Hanya 14 persen responden saja yang tidak mendapatkan dukungan dari keluarga.

"Tetapi, dari data yang kita lihat bahwa itu (ATM Colek) tidak jangka panjang," ujarnya, Rabu (30/10).

GoBear Financial Health Index adalah hasil studi yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami apa yang dipikirkan, rasakan dan lakukan oleh masyarakat Asia terkait dengan kesehatan keuangan mereka.

Studi ini berisikan wawasan konsumen. FHI adalah sumber informasi bagi para ahli dan pengguna, untuk memahami dan mempelajari kebiasaan dan perilaku seputar kesehatan keuangan pribadi yang berlaku di Asia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025