Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Biaya Tinggi Pengelolaan Daur Ulang Sampah Plastik Lokal


Asosiasi Daur Ulang Plastik (ADUPI) mengeluhkan tingginya biaya yang dibutuhkan untuk mendapat bahan baku daur ulang di dalam negeri. Mahalnya harga bahan baku ini akibat buruknya kualitas sampah di Indonesia.

Sehingga, ia mengatakan pihaknya harus mengimpor bahan baku dari luar negeri untuk industri daur ulang. Ia mengatakan kualitas bahan baku daur ulang di Indonesia juga buruk karena sampah tidak dipilah dari sumbernya.

"Kualitas sampah di Indonesia kebanyakan tidak cocok untuk industri daur ulang karena salahnya sendiri kita tidak memilah sampah kita dari sumbernya, jadi kotor," papar Ketua Umum ADUPI Christine Halim pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/11).

Hal senada diungkap Kepala Seksi Daur Ulang Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah KLHK, Tyasning Pernamasari. Menurutnya seringkali sampah di dalam negeri masih harus dipilah dan dibersihkan terlebih dulu. Hal inilah yang membuat biaya pengelolaan sampah yang daur ulang yang diambil dari dalam negeri jadi lebih mahal ketimbang mengimpor sampah daur ulang dari luar negeri.

Hal lain yang membuat pengolahan sampah daur ulang dalam negeri mahal menurut Christine karena terlalu banyak jenjang pengumpulan sampah. Mulai dari pemulung hingga ke pengepul besar.

"Kita ini mahal bahan baku di Indonesia ini akibat terlalu bayak jenjang pengumpulan itu. Akhirnya kita cuma jadi raja kecil di negara sendiri," katanya.

Ia mengatakan dibandingkan dengan China, Indonesia tidak memiliki kesadaran sendiri untuk memilah sampah dari sumber. Selain sudah ada kesadaran masyarakat, jenjang pengumpulan sampah di negeri itu pun hanya melewati tiga tahap.

Tahap pertama dimulai dari penduduk yang memisahkan sampah sendiri, lalu diambil oleh perusahaan waste management, dan disortir menggunakan mesin. Efektivitas pengolahan sampah ini pun membuat harga bahan baku daur ulang jadi lebih murah.

Selain itu ADUPI menilai, mengekspor produk daur ulang lebih menguntungkan ketimbang menjualnya di dalam negeri. Menurut Christine, harga produk daur ulang di luar negeri bisa dijual 50 persen lebih mahal dibandingkan di pasar domestik.

Ia pun mencontohkan plastik daur ulang di Indonsia bisa dijual US$800 (Rp11,2 juta; kurs Rp14.104) per metrik ton. Tapi ketika produk ini diekspor bisa mencapai US$1200 (Rp16,9 juta) per metrik ton.

"Di dalam negeri kalau bisnis di sini juga harus PPN 10 persen," tandas Christine.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)