Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Buggati 'Sontek' Lamborghini dan Ferrari, Bikin 'Mobil Murah'


Anak perusahaan grup Volkswagen spesialis hypercar, Bugatti Automobiles, kini mulai berpikir seperti Lamborghini dan Ferrari yang sudah merancang mobil tidak tradisional. Perusahaan asal Prancis ini dilaporkan ingin merancang mobil yang lebih murah dari Chiron.

Banderol Chiron sekitar 2,5 juta euro (Rp38 miliar), Buggati diberitakan Automotive News ingin merancang mobil seharga 500.000 euro - 1 juta euro (Rp7,7 miliar - Rp15,5 miliar). Jenis mobil yang potensial untuk itu dikatakan mobil listrik berupa sedan grand tourer atau crossover.
CEO Bugatti Stephan Winkelmann mengatakan hal itu sedang didiskusikan dengan grup Volkswagen.


"Industri sedang berganti secara fundamental, dan kami harus mengarahkan peluang yang ada di sana untuk mengembangkan Bugatti sebagai merek yang terus maju," ujar Winkelmann yang juga menyebut investasi seperti itu bakalan jadi 'pertarungan sulit'.

Buat Buggati transformasi seperti ini bukan soal penyesuaian terhadap regulasi emisi bahan bakar yang semakin ketat, melainkan terkait menciptakan definisi peralihan dan melakukan inovasi.

Winkelmann disebut ingin membuat Bugatti mandiri dan tidak ketergantungan pada induk perusahaan demi menghindari potensi 'terancam' lagi. Saat grup Volkswagen goyah usai mengakui melakukan skandal mesin diesel pada 2015, investasi pada pengembangan Bugatti terasa berat.
Buggati membatasi produksi Chiron hanya 500 unit per tahun dan sekitar 100 unit lain edisi khusus. Menambah model baru yang lebih murah akan menjadi ekspansi besar dengan kinerja produksi lebih dari 600 unit per tahun.

Sebelum menjadi CEO Bugatti, Winkelmann pernah menduduki jabatan yang sama di perusahaan supercar bagian dari grup Volkswagen, Lamborghini. Dia merupakan salah satu tokoh yang mendukung merek berlambang banteng itu menghasilkan SUV bernama Urus. Pada 2020, Ferrari menjanjikan kelahiran pesaing urus, Purosangue.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025