Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2025

Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rugi Waskita Karya (WSKT) Turun 31,32% Jadi Rp 2,58 Triliun di Tahun 2024

  Rugi bersih PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) berkurang di tahun 2024, meskipun pendapatan usahanya tercatat turun. Melansir laporan keuangan, WSKT mengantongi pendapatan usaha sebesar Rp 10,70 triliun di tahun 2024. Angka itu turun 2,27% secara tahunan alias year on year (YoY) dari Rp 10,95 triliun di tahun 2023. Segmen jasa konstruksi berkontribusi paling besar ke pendapatan usaha Waskita tahun lalu, yaitu sebesar Rp 7,89 triliun. Lalu diikuti segmen penjualan precast Rp 1,34 triliun, segmen pendapatan jalan tol Rp 1,10 triliun, dan segmen pendapatan properti Rp 176,83 miliar. Kemudian, segmen pendapatan hotel menyumbang Rp 110,30 miliar, segmen penjualan infrastruktur lainnya Rp 64,90 miliar, dan segmen sewa gedung dan peralatan Rp 12,67 miliar. Turunnya pendapatan usaha diikuti juga oleh penurunan beban pokok pendapatan dari Rp 10,34 triliun di tahun 2023, menjadi Rp 9,28 triliun di tahun 2024. Alhasil, laba bruto Waskita menjadi Rp 1,41 triliun tahun lalu, na...

IHSG Masih Dibayangi Tekanan Eksternal, Cermati Saham Berikut Sepekan Ini

  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 74,40 poin atau 1,21% ke 6.235,61 pada akhir perdagangan Selasa (25/3).  Sebanyak 329 saham naik, 265 saham turun dan 202 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 16,64 miliar saham dengan total nilai Rp 14,22 triliun. Aliran dana asing tercatat masuk Rp 420,19 miliar hari ini. Sayangnya, dana asing yang keluar dari bursa sejak awal tahun masih jauh lebih besar yaitu mencapai Rp 30,83 triliun. Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila mengatakan, sentimen yang menggerakan pasar hari ini adalah sentimen eksternal melihat tarif impor yang lebih lunak. Rilis data purchase manager index  (PMI) Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penguatan di PMI jasa.  “Namun, sentimen ini masih bisa jangka pendek dan belum cukup sinyal baik untuk IHSG, karena IHSG masih tertekan dari sisi domestik yaitu keadaan risiko politik yang tinggi serta pasar China yang dinilai ...

Saham Blue Chip Ini Akan Bayar Dividen Rp 1,12 Triliun, Investor Perlu Beli / Tahan?

  Musim pembayaran dividen saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dimulai. Terbaru, saham blue chip sektor telekomunikasi menyiapkan dana lebih dari Rp 1 triliun untuk pembayaran dividen. Dengan dividen tersebut, apakah saham blue chip ini menarik dikoleksi? Saham blue chip adalah saham lapis satu yang berpengalaman lama di bursa efek. Saham blue chip biasanya berasal dari perusahaan dengan kinerja fundamental yang kuat serta memiliki nilai kapitalisasi pasar besar mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor seperti LQ45. Terbaru, salah satu anggota LQ45 yang akan bayar dividen saham adalah PT XL Axiata Tbk (EXCL). Manajemen EXCL mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk pembayaran dividen Rp 1,12 triliun dari laba bersih tahun buku 2024. Jumlah tersebut setara dengan 62% dari laba bersih EXCL tahun buku 2024. Setiap pemegang saham EXCL akan memperoleh dividen Rp 85,7 per saham. ...