Sempat Menghijau di Pembukaan, IHSG Hari Ini Berbalik Arah ke Zona Merah

 Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada awal perdagangan saham hari ini, Selasa (7/7/2026). Namun tidak lama kemudian, indeks harus menghadapi tekanan pasar. Mengutip data RTI, IHSG hari ini dibuka naik ke level 5.933,57 dari penutupan perdagangan kemarin di angka 5.916,07. Saat dipantau pada pukul 09.05 WIB, IHSG sudah berbalik arah ke zona merah dengan melemah tipis 0,09% ke posisi 5.910,12. Berbeda dengan indeks utama, indeks saham LQ45 terpantau berada di zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,60% ke level 587. Secara umum, sebagian besar indeks saham acuan lainnya juga bergerak menghidupkan zona hijau. Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 5.943,53 dan level terendah di 5.903,45. Tercatat sebanyak 278 saham menguat, 159 saham melemah, dan 229 saham bergerak stagnan atau diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 94.751 kali dengan volume perdagangan mencapai 1,1 miliar saham. Nilai transak...

Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

 

Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu.

Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan.

“Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan.

Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsolidatif sebelum rebound secara bertahap.

Dari sisi fundamental, BCA dinilai masih kuat dengan likuiditas longgar, rasio CASA tinggi, kualitas aset terjaga, serta proyeksi pertumbuhan kredit 2026 yang lebih baik dibandingkan 2025.

Ekky menilai harga BBCA di bawah Rp8.000 sudah menarik untuk akumulasi bertahap bagi investor jangka menengah hingga panjang. Namun, saham ini kurang cocok untuk trader jangka pendek karena masih sensitif terhadap arus dana asing.

Secara teknikal, area support BBCA berada di kisaran Rp7.300, sementara resistance terdekat berada di rentang Rp7.800–Rp7.850.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menambahkan bahwa sekitar 70%–80% saham BCA dimiliki investor asing, sehingga pergerakan harga sangat dipengaruhi sentimen global.

Dari sisi kinerja, BCA mencatat laba bersih Rp57,5 triliun pada 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan, dengan pertumbuhan kredit 7,7% dan kualitas aset yang tetap terjaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)