Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Riset: Jakarta dan Ratusan Kota di Dunia Tenggelam di 2050


Sebuah penelitian yang dirilis oleh Nature Communication pada 29 Oktober 2019 mengungkapkan sejumlah negara, termasuk Indonesia, akan tenggelam pada tahun 2050. Penelitian itu mengungkapkan permukaan laut akan mengalami kenaikan sekitar 30 hingga 50 sentimeter.

Dampak perubahan iklim kini semakin nyata dan kian mengkhawatirkan. Jika tidak diatasi, permukaan air laut yang semakin tinggi akibat mencairnya es di Antartika dapat menenggelamkan kota-kota di dunia.

Sebanyak lebih dari 150 juta orang saat ini disebut tinggal di wilayah dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Pearl River Delta di China, Bangladesh, Jakarta, dan Bangkok diperkirakan akan menjadi kota yang tenggelam tersebut.

"Kami menemukan bahwa lebih dari 70 persen dari jumlah orang di seluruh dunia yang saat ini hidup di tanah yang terlibat berada di delapan negara Asia: Cina, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Jepang," tulis dalam laporan tersebut.
mensimulasikan kenaikan permukaan laut untuk melihat historis emisi sejak 1750. Selain itu dilihat pula skenario emisi terhitung sejak Perjanjian Paris hingga 2030 jika seluruh negara benar-benar menepati perjanjian tersebut.

"Hasil menunjukkan bahwa apa yang kami lakukan hari ini akan memiliki efek besar pada 2300. 20 sentimeter sangat signifikan; pada dasarnya kenaikan permukaan laut sama banyaknya dengan yang telah kami amati selama seluruh abad ke-20, "kata Climate Analytics, Alexander Nauels, penulis utama penelitian ini.





Permukaan air laut akan terus meningkat walau komitmen Perjanjian Paris telah berhasil menjaga suhu dunia. Perjanjian Paris yang dilakukan pada 2015 dengan tujuan sejumlah negara sepakat untuk berkomitmen mengurangi tingkat emisi.

Hampir 20 sentimeter kenaikan permukaan laut disebabkan oleh emisi dari lima negara dan salah satunya adalah Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan telah menyatakan keluar dari perjanjian tersebut. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini