Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pertamina Gelontorkan Rp5 T untuk Energi Terbarukan


PT Pertamina (Persero) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$428,57 juta atau setara Rp5,99 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat) untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk periode 2020 hingga 2026.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Heru Setiawan menjelaskan angka itu naik signifikan hingga 1.058 persen dibandingkan dengan posisi 2017 yang hanya US$37 juta atau Rp518 miliar.

"Untuk memenuhi permintaan energi baru terbarukan, Pertamina mengalokasikan 10 kali lipat anggaran investasi untuk 2020-2026 dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2017," ucap Heru, Rabu (27/11).

Sejumlah proyek energi baru terbarukan yang akan dikembangkan oleh Pertamina, seperti kilang hijau atau green refinery, gasifikasi batu bara, bioethanol, pabrik baterai, solar, biomassa, angin, dan geothermal.
Heru menjelaskan Pertamina memiliki tiga skenario untuk mengantisipasi perkembangan energi global. Skenario yang dimaksud, antara lain menjalankan bisnis seperti biasanya atau business as usual (BAU), produksi energi bergantung dari permintaan pasar atau market as drivers (MAD), dan ramah lingkungan atau green as possible (GAP).

"Pertamina (untuk saat ini) memilih opsi MAD," imbuhnya.

Hal itu dengan mempertimbangkan kondisi di Indonesia, di mana skenario MAD adalah langkah transisi ke arah energi baru terbarukan. Hanya saja, saat ini permintaan energi memang masih didominasi minyak bumi.

"Namun mulai ada substitusi ke gas bumi secara masif dan energi baru terbarukan secara bertahap," kata Heru.



Menurutnya, pemanfaatan EBT di Indonesia memang belum agresif lantaran teknologinya yang masih terbatas. Dengan demikian, proses pengembangan EBT belum bisa dibilang efektif dan efisien.

"Model bisnis EBT belum mendukung pada terciptanya ekosistem bisnis yang atraktif," pungkas Heru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini