Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Pertamina Gelontorkan Rp5 T untuk Energi Terbarukan


PT Pertamina (Persero) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$428,57 juta atau setara Rp5,99 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat) untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk periode 2020 hingga 2026.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Heru Setiawan menjelaskan angka itu naik signifikan hingga 1.058 persen dibandingkan dengan posisi 2017 yang hanya US$37 juta atau Rp518 miliar.

"Untuk memenuhi permintaan energi baru terbarukan, Pertamina mengalokasikan 10 kali lipat anggaran investasi untuk 2020-2026 dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2017," ucap Heru, Rabu (27/11).

Sejumlah proyek energi baru terbarukan yang akan dikembangkan oleh Pertamina, seperti kilang hijau atau green refinery, gasifikasi batu bara, bioethanol, pabrik baterai, solar, biomassa, angin, dan geothermal.
Heru menjelaskan Pertamina memiliki tiga skenario untuk mengantisipasi perkembangan energi global. Skenario yang dimaksud, antara lain menjalankan bisnis seperti biasanya atau business as usual (BAU), produksi energi bergantung dari permintaan pasar atau market as drivers (MAD), dan ramah lingkungan atau green as possible (GAP).

"Pertamina (untuk saat ini) memilih opsi MAD," imbuhnya.

Hal itu dengan mempertimbangkan kondisi di Indonesia, di mana skenario MAD adalah langkah transisi ke arah energi baru terbarukan. Hanya saja, saat ini permintaan energi memang masih didominasi minyak bumi.

"Namun mulai ada substitusi ke gas bumi secara masif dan energi baru terbarukan secara bertahap," kata Heru.



Menurutnya, pemanfaatan EBT di Indonesia memang belum agresif lantaran teknologinya yang masih terbatas. Dengan demikian, proses pengembangan EBT belum bisa dibilang efektif dan efisien.

"Model bisnis EBT belum mendukung pada terciptanya ekosistem bisnis yang atraktif," pungkas Heru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025