Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Pertamina Gelontorkan Rp5 T untuk Energi Terbarukan


PT Pertamina (Persero) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$428,57 juta atau setara Rp5,99 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat) untuk pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk periode 2020 hingga 2026.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Heru Setiawan menjelaskan angka itu naik signifikan hingga 1.058 persen dibandingkan dengan posisi 2017 yang hanya US$37 juta atau Rp518 miliar.

"Untuk memenuhi permintaan energi baru terbarukan, Pertamina mengalokasikan 10 kali lipat anggaran investasi untuk 2020-2026 dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2017," ucap Heru, Rabu (27/11).

Sejumlah proyek energi baru terbarukan yang akan dikembangkan oleh Pertamina, seperti kilang hijau atau green refinery, gasifikasi batu bara, bioethanol, pabrik baterai, solar, biomassa, angin, dan geothermal.
Heru menjelaskan Pertamina memiliki tiga skenario untuk mengantisipasi perkembangan energi global. Skenario yang dimaksud, antara lain menjalankan bisnis seperti biasanya atau business as usual (BAU), produksi energi bergantung dari permintaan pasar atau market as drivers (MAD), dan ramah lingkungan atau green as possible (GAP).

"Pertamina (untuk saat ini) memilih opsi MAD," imbuhnya.

Hal itu dengan mempertimbangkan kondisi di Indonesia, di mana skenario MAD adalah langkah transisi ke arah energi baru terbarukan. Hanya saja, saat ini permintaan energi memang masih didominasi minyak bumi.

"Namun mulai ada substitusi ke gas bumi secara masif dan energi baru terbarukan secara bertahap," kata Heru.



Menurutnya, pemanfaatan EBT di Indonesia memang belum agresif lantaran teknologinya yang masih terbatas. Dengan demikian, proses pengembangan EBT belum bisa dibilang efektif dan efisien.

"Model bisnis EBT belum mendukung pada terciptanya ekosistem bisnis yang atraktif," pungkas Heru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)