Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rokok Kerek Inflasi Oktober 0,02 Persen


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,02 persen pada Oktober 2019. Angka ini berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya di mana indeks harga deflasi, 0,27 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan realisasi ini menjadikan inflasi tahun kalender mencapai 2,20 persen hingga Oktober kemarin. Tetapi, inflasi ini lebih rendah dibanding dari Oktober tahun lalu yang tercatat sebesar 0,28 persen.

"Angka ini inflasi ini terkendali, tinggal 2 bulan lagi dan saya yakin target inflasi akan tercapai" ujarnya, Jumat (1/11).

Suhariyanto mengatakan inflasi terjadi di 49 kota di Indonesia, sedangkan 39 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manado sebesar 1,22 persen dan terendah terjadi di tiga kota yakni Pematang Siantar, Tual, dan Ternate sebesar 0,01 persen.
Jika dilihat secara komponen, kelompok bahan makanan jadi, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,45 persen dengan sumbangan kepada inflasi sebesar 0,08 persen. Dari komponen ini, lanjut dia, komoditas yang cukup dominan kepada inflasi adalah nasi dan lauk pauk, rokok kretek dan rokok putih yang menyumbang inflasi masing-masing sebesar 0,05 persen.

Selain itu, beberapa komoditas mengalami kenaikan adalah harga daging ayam ras sebesar 0,05 persen dan bawang merah sebesar 0,02 persen.

"Tetapi karena banyak komoditas yang mengalami penurunan harga seperti cabai, maka bahan mengalami deflasi 0,41 persen," katanya.

Sementara itu, inflasi inti masih bergerak 0,17 persen yang mengindikasikan bahwa deflasi ini bukan terjadi karena penurunan daya beli masyarakat. Dengan demikian, ini menyebabkan inflasi secara tahunan (year-on-year) mencapai 3,13 persen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini