Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

 

Harga Bitcoin (BTC) kembali mencetak rekor baru dan memicu gelombang optimisme di kalangan investor.

Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa aktivitas lindung nilai (hedging) oleh dealer dan market maker dapat memperlambat laju reli, khususnya saat harga mendekati zona teknikal penting di kisaran US$115.000.

Pada perdagangan sesi Asia, Bitcoin sempat menyentuh US$111.000, sebelum diperdagangkan di sekitar level US$111.300 pada pukul 08.59 WIB, menurut data Coinmarketcap.

Permintaan OTC Dorong Lonjakan Harga

CEO dan pendiri Two Prime, Alexander S. Blume mengatakan, lonjakan harga Bitcoin belakangan ini sebagian besar didorong oleh permintaan institusional yang masuk lewat jalur over-the-counter (OTC), yang tidak tercermin langsung dalam volume perdagangan di bursa maupun pasar derivatif.

“Pasokan OTC mungkin mulai menipis. Jika benar demikian, bersiaplah untuk perjalanan liar,” ujar Blume, seperti dikutip dari Coindesk, Jumat (23/5).

“Minat dari korporasi meningkat, dan pasar OTC yang kurang elastis bisa mempercepat kenaikan harga.”

Ia menambahkan bahwa sejumlah perusahaan besar kini melakukan pembelian dalam jumlah besar melalui transaksi OTC, bahkan permintaan dari institusi negara mulai santer terdengar.

Target US$180.000: ETF Spot dan Risiko Makro Jadi Pendorong

Dari sisi proyeksi harga, analis utama Bitget Ryan Lee memperkirakan BTC berpotensi menembus level US$180.000 sebelum akhir 2025.

Faktor pendorongnya mencakup masuknya dana ke ETF spot, efek dari halving, serta peningkatan adopsi institusional.

“Penurunan peringkat kredit AS oleh Moody’s ke Aa1 juga menjadi pemicu makro tambahan yang mendorong permintaan terhadap BTC dan ETH sebagai lindung nilai terhadap risiko fiat,” ujarnya.

Menurut Lee, kemampuan BTC bertahan di atas US$103.000 di tengah volatilitas pasar menunjukkan pergeseran fungsi kripto menjadi aset cadangan strategis.

Dealer Bisa Tahan Laju Reli di US$115.000

Meski prospek jangka panjang masih positif, analis memperingatkan potensi hambatan teknikal dalam jangka pendek.

Jeff Anderson, kepala wilayah Asia di STS Digital, menyebut bahwa dealer di pasar opsi Bitcoin bisa menahan kenaikan harga di kisaran US$115.000 ke atas karena eksposur gamma yang tinggi.

Dealer umumnya bertindak sebagai penyedia likuiditas dengan posisi netral harga, dan akan melakukan penyesuaian posisi saat pasar bergerak.

Data dari pasar opsi Deribit yang dikumpulkan Amberdata menunjukkan dealer saat ini memiliki eksposur gamma positif signifikan di level strike US$115.000 dan di atasnya.

Gamma positif berarti dealer memiliki posisi long di call atau put option, yang membuat mereka harus menjual lebih banyak BTC saat harga naik sebagai langkah penyeimbang risiko (delta-hedging).

“Banyak investor menjual call option di harga lebih tinggi untuk menghasilkan imbal hasil tambahan dari kepemilikan spot mereka,” jelas Anderson.

“Zona gamma ini bisa menjadi resistance teknikal. Tapi kalau kita bisa menembusnya, reli ini bisa benar-benar lepas landas.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini