Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Faktor Teknis Tekan Rupiah ke Level Rp14.022 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.022 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Rabu (6/11) sore. Posisi tersebut melemah 38 poin atau 0,38 persen dibandingkan perdagangan Selasa (5/11) kemarin yang di  Rp13.984 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.993 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi Selasa, yang di Rp14.031 per dolar AS.  Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS.

Tercatat, yuan China menguat 0,17 persen, yen Jepang juga menguat sebesar 0,12 persen, begitu juga dolar Singapura dan dolar Hong Kong yang masing-masing menguat tipis sebesar 0,01 dan 0,02 persen. Selanjutnya, negara yang mengalami penurunan nilai adalah Peso Filipina yang terpantau melemah 0,47 persen, rupee India juga melemah 0,36 persen, serta ringgit Malaysia melemah 0,19 persen.

Sementara itu, hanya won Korea berada di posisi stagnan terhadap dolar AS. Di negara maju, mayoritas nilai tukar menguat terhadap dolar AS. Tercatat poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, dolar Australia menguat
0,10 persen, serta euro yang menguat sebesar 0,09 persen.
Hanya dolar Kanada yang terpantau melemah tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS. Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan dipicu faktor disebabkan oleh faktor teknis.

"Karena kemarin sudah terlalu cepat penguatannya, wajar kalau hari ini rupiah melemah. Pelemahan akibat technical rebound," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/11).

Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah hari ini masih tertahan oleh rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019 yang masih bisa mencapai level 5,02 persen.  Pertumbuhan tersebut masih sesuai dengan ekspektasi pasar



Ibrahim menyebut pasar yakin dalam melihat pertumbuhan ekonomi kuartal III. Pertumbuhan tersebut membuat mereka yakin pemerintah  terus berupaya menjaga ekonomi dalam negeri..

Dari sisi eksternal, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan perundingan dagang antara AS-China. Kedua negara masih berupaya mewujudkan kesepakatan damai dagang fase I.

"Pasar menantikan kepastian kapan perjanjian damai dagang fase I akan diteken," tuturnya.

Lebih Lanjut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali melemah Kamis (6/11) di kisaran Rp14 ribu hingga Rp14.050 per dolar AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)