Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Rupiah Melemah ke Rp13.646 per Dolar AS Tertekan Ramalan IMF


Nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp13.646 per dolar AS pada Selasa (21/1). Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibanding  awal pekan kemarin yang berada di posisi Rp13.639 per dolar AS.

Rupiah tak sendiri. Bersama dengan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea melemah 0,08 persen, dolar Hong Kong dan ringgit Malaysia sama-sama melemah 0,02 persen, serta dolar Singapura 0,01 persen.

Di sisi lain, penguatan terjadi pada baht Thailand sebesar 0,05 persen, dan lira Turki yang menguat tipis 0,01 persen. Sementara hanya yen Jepang yang berada di posisi stagnan terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris serta euro melemah dengan nilai masing-masing sebesar 0,07 dan 0,01 persen, sementara dolar Kanada menguat 0,01 persen, dan dolar Australia menguat 0,08 persen terhadap dolar AS.
Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan rupiah pagi ini disebabkan oleh sentimen negatif dari prediksi International Monetary Fund (IMF) mengenai melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

"Pelaku pasar harus mewaspadai sentimen negatif dari prediksi dari IMF mengenai pertumbuhan ekonomi global yang semakin melambat," kata Ariston saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (21/1).

Diketahui, IMF memangkas prediksi pertumbuhan global 2020 dari 3,4 persen menjadi 3,3 persen karena pelambatan pertumbuhan di India dan emerging markets.

"Sentimen negatif ini bisa menahan penguatan rupiah terhadap dolar AS," ucapnya.

Lebih lanjut, Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp13.600 hingga Rp13.700 per dolar AS pada hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)