Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Rupiah Berotot Usai Kesepakatan Dagang AS-China Diteken

Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.670 per dolar AS atau sebesar 0,18 persen pada perdagangan pasar spot, Kamis (16/1) pagi. Sebelumnya, mata uang Garuda berada di Rp13.695 per dolar AS pada penutupan pasar, Rabu (15/1).

Pagi hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Terpantau, dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen, dolar Singapura 0,04 persen, baht Thailand 0,06 persen. Diikuti ringgit Malaysia yang menguat sebesar 0,23 persen.

Sementara, pelemahan terjadi pada won Korea sebesar 0,16 persen, serta yen Jepang dan lira Turki yang sama-sama melemah 0,04 persen terhadap dolar AS.

Dari negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia dan dolar Kanada menguat dengan nilai masing-masing sebesar 0,10 dan 0,02 persen. Sementara, euro menguat 0,07 persen, serta poundsterling Inggris menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai penguatan rupiah pagi ini disebabkan oleh sentimen kesepakatan dagang antara AS dan China.

Menurut Ariston, penandatanganan kesepakatan dagang yang dilakukan kedua pihak pada Rabu (15/1) malam telah memberikan sentimen positif ke aset berisiko.

"Rupiah bisa menguat hari ini terhadap dolar AS. Tingkat imbal hasil obligasi AS yang menurun kemarin bisa membantu penguatan, selain sentimen positif dari penandatanganan kesepakatan dagang," ujarnya,
Hanya saja, lanjut Ariston, sentimen negatif juga timbul dari pihak AS yang tidak akan menghapus semua tarif impor barang China hingga kesepakatan fase dua jelang Pemilu AS. Menurutnya, hal tersebut memicu kekhawatiran besar bagi pasar.

"Tarif ini bisa mengganggu negosiasi selanjutnya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ariston berpendapat rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.630 hingga Rp13.730 per dolar AS pada hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)