Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rapat di DPR soal Jiwasraya, BEI Bantah Asal-asalan Gelar IPO


Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah anggapan lebih mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas perusahaan yang melantai di bursa. Hal itu disampaikan usai rapat dengan DPR terkait PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memiliki kecenderungan dalam pemilihan sisi kualitas maupun kuantitas perusahaan IPO.

"Dari segi kami, memang kami harus balance antara jumlah dan kualitas. Itu yang kami usahakan selalu tercapai," kata Laksono di DPR RI, Jakarta, Rabu (15/1).

Menurut Laksono, hal tersebut perlu dilakukan karena perusahaan yang melakukan IPO besar. Laksono juga menjelaskan BEI melakukan akomodasi terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) yang ingin IPO.
"Makanya ada papan akselerasi. Nanti kami akan arahkan untuk perusahaan-perusahaan UKM," jelasnya.

Terkait perusahaan yang pergerakan sahamnya tidak wajar, Laksono mengatakan BEI sudah memiliki 'rambu' seperti Unusual Market Activity (UMA) dan suspensi.

"Jadi, sebenarnya kami memiliki rambu-rambu yang apabila diikuti dengan baik, mestinya cukup memberikan guidance buat para investor untuk memilih saham-sahamnya," tuturnya.

Di satu sisi, Laksono pun telah mendapatkan beberapa saham-saham 'gorengan' yang telah terindikasi UMA. Namun, ia mengaku pihaknya belum dapat menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut.
"Sampai saat ini, kami belum menyebutkan nama-namanya. Tapi, tentunya ini adalah bagian dari monitoring kami. Sebenarnya kalau dilihat dari nama-nama tersebut, kebanyakan perusahaan-perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang sudah kena UMA sebelumnya, tidak mendadak begitu saja muncul," ungkapnya.

Akan tetapi, Laksono memastikan nama-nama perusahaan dengan saham gorengan yang terindikasi UMA dan terbukti bermasalah nantinya akan segera dipublikasikan.

"Kami ada asumsi, ini kan mesti panggil emitennya segala macam sebelum kami memberikan data ini kepada publik," pungkasnya.

website Indonesia Stock Exchange (IDX), PT Trada Maritime (TRAM) Tbk. terkait kasus Jiwasraya pernah terjerat penghentian sementara perdagangan saham (suspensi) sebanyak dua kali pada bulan Juni dan November sepanjang 2014, dan dua kali berikutnya pada Oktober 2016 dan Februari 2017 silam.

Tak hanya itu, TRAM juga pernah teridentifikasi UMA pada Oktober 2016, dan dua kali teredintifikasi pada bulan Februari dan Agustus sepanjang 2017 silam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini