Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Rapat di DPR soal Jiwasraya, BEI Bantah Asal-asalan Gelar IPO


Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah anggapan lebih mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas perusahaan yang melantai di bursa. Hal itu disampaikan usai rapat dengan DPR terkait PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memiliki kecenderungan dalam pemilihan sisi kualitas maupun kuantitas perusahaan IPO.

"Dari segi kami, memang kami harus balance antara jumlah dan kualitas. Itu yang kami usahakan selalu tercapai," kata Laksono di DPR RI, Jakarta, Rabu (15/1).

Menurut Laksono, hal tersebut perlu dilakukan karena perusahaan yang melakukan IPO besar. Laksono juga menjelaskan BEI melakukan akomodasi terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) yang ingin IPO.
"Makanya ada papan akselerasi. Nanti kami akan arahkan untuk perusahaan-perusahaan UKM," jelasnya.

Terkait perusahaan yang pergerakan sahamnya tidak wajar, Laksono mengatakan BEI sudah memiliki 'rambu' seperti Unusual Market Activity (UMA) dan suspensi.

"Jadi, sebenarnya kami memiliki rambu-rambu yang apabila diikuti dengan baik, mestinya cukup memberikan guidance buat para investor untuk memilih saham-sahamnya," tuturnya.

Di satu sisi, Laksono pun telah mendapatkan beberapa saham-saham 'gorengan' yang telah terindikasi UMA. Namun, ia mengaku pihaknya belum dapat menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut.
"Sampai saat ini, kami belum menyebutkan nama-namanya. Tapi, tentunya ini adalah bagian dari monitoring kami. Sebenarnya kalau dilihat dari nama-nama tersebut, kebanyakan perusahaan-perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang sudah kena UMA sebelumnya, tidak mendadak begitu saja muncul," ungkapnya.

Akan tetapi, Laksono memastikan nama-nama perusahaan dengan saham gorengan yang terindikasi UMA dan terbukti bermasalah nantinya akan segera dipublikasikan.

"Kami ada asumsi, ini kan mesti panggil emitennya segala macam sebelum kami memberikan data ini kepada publik," pungkasnya.

website Indonesia Stock Exchange (IDX), PT Trada Maritime (TRAM) Tbk. terkait kasus Jiwasraya pernah terjerat penghentian sementara perdagangan saham (suspensi) sebanyak dua kali pada bulan Juni dan November sepanjang 2014, dan dua kali berikutnya pada Oktober 2016 dan Februari 2017 silam.

Tak hanya itu, TRAM juga pernah teridentifikasi UMA pada Oktober 2016, dan dua kali teredintifikasi pada bulan Februari dan Agustus sepanjang 2017 silam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)