Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Airlangga Sebut Virus Corona Buat Goncangan Ekonomi Global


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut wabah virus Corona asal China menjadi ketidakpastian baru bagi perekonomian global. Pasalnya, virus tidak hanya tersebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, namun juga menyebar ke beberapa negara di dunia.

"Yang terbaru adalah Corona di China, tentu ini akan menjadi persoalan baru untuk perekonomian dunia. Ini sebuah ketidakpastian," ucap Airlangga, Selasa (28/1).

Kendati begitu, ia belum bisa memproyeksi seberapa besar dampak virus bagi perekonomian dunia. Namun, yang pasti ini menjadi ketidakpastian baru setelah ekonomi global selama ini mendapat ketidakpastian dari perang dagang Amerika Serikat dan China.

Lebih lanjut, menurutnya, persoalan virus Corona tidak hanya menjadi sentimen bagi perekonomian dunia, namun negara-negara di kawasan regional. Khususnya Asia sebagai kawasan tempat China bernaung dan negara-negara yang sudah positif 'kedapatan' virus tersebut.
"Virus corona ini dampaknya regional dan global, jadi kami lihat saja perkembangannya," ujar mantan menteri perindustrian itu.

Khusus bagi Indonesia, Airlangga melihat dampak awal kekhawatiran virus Corona akan menekan sektor pariwisata. Terlebih, pemerintah sudah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi masyarakat dari dan menuju ke China.

Hal ini, sambungnya, akan memberikan tekanan bagi sektor pariwisata nasional. Apalagi, China merupakan salah satu penyumbang wisatawan mancanegara bagi Indonesia.

"Sudah pasti pariwisata dari China akan terganggu, itu yang terutama," katanya.
Sayangnya, Airlangga belum bisa memberi estimasi seberapa besar dampak kekhawatiran penyebaran virus Corona ke sektor wisata dalam negeri saat ini. Begitu pula dengan prospek ke depan.

Virus Corona memiliki indikasi flu berkepanjangan dengan deman tinggi. Virus ini pertama kali diketahui di Wuhan, China pada akhir tahun lalu.

Saat ini, setidaknya sudah ada 82 orang meninggal akibat virus tersebut. Lalu, sekitar 2.700 orang terkena infeksinya.

Virus sendiri tidak hanya bersemayam di Wuhan, namun sudah menyebar ke sejumlah negara. Mulai dari Taiwan, Nepal, Jepang, Korea Selatan, Kamboja, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Australia, Amerika Serikat, Kanada, hingga Prancis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)