Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pandemi Corona Buat Krisis Maskapai Terburuk Sepanjang Masa


Industri penerbangan diterpa krisis terhebat sepanjang masa imbas wabah virus corona. Pandemi ini bak badai yang membuat pesawat-pesawat gagal terbang.

Menurut United Airlines wabah penyakit yang mulai muncul pada Desember 2019 itu menyebabkan permintaan perjalanan udara turun drastis.

Analis yang disurvei penyedia data infrastruktur dan pasar keuangan, Refinitiv, memperkirakan pendapatan maskapai turun lebih dari 200 persen pada kuartal pertama. Tak berbeda jauh, data Factset juga menyebut setiap maskapai akan merugi.
Dikutip dari CNN.com, perusahaan penerbangan diprediksi mengalami kerugian miliaran dolar AS pada kuartal I 2020. Padahal, periode yang sama tahun lalu masih mencetak laba.
United menyebut telah menelan kerugian hingga US$2,1 miliar atau Rp32,7 triliun pada kuartal pertama, sementara kerugian operasi akan mencapai US$1 miliar sekitar Rp15,5 triliun.

Situasi ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah. Penurunan perjalanan udara setelah serangan 11 September 2001 atau resesi 2008 hingga 2009 bukan tandingan bagi imbas pandemi virus corona.

United, Delta, dan America, yang merupakan operator utama di AS saat ini sebelumnya tak pernah melaporkan kerugian dalam lebih dari lima tahun.

Sebenarnya pada Januari, Februari, hingga awal Maret bisnis maskapai berlangsung normal sebelum kemudian terjun bebas.
Administrasi Keamanan Transportasi AS mencatat jumlah orang di bandara turun 95 persen dibanding April tahun lalu. Sebelumnya pada Maret tercatat penurunan 51 persen.

Maskapai-maskapai sudah memangkas jadwal penerbangan bulan Mei hingga 90 persen dan memprediksi kondisi yang sama bakal berlanjut setidaknya hingga 2021.

Untuk menghadapi krisis, kongres AS menyetujui hibah dan pinjaman berbunga rendah senilai US$25 miliar sekitar Rp389 triliun, dengan syarat maskapai tidak memberlakukan pemutusan hubungan kerja, merumahkan karyawan, atau pemotongan gaji terhadap 750 ribu karyawan hingga September.

Analis maskapai JPMorgan Chase menulis pekerja industri maskapai akan menghitung hari hingga Oktober atau setelah melewati batas durasi syarat pemerintah AS.

"Sayangnya kami tidak melihat cara maskapai penerbangan AS untuk menghindari PHK besar-besaran," tulis Jamie Baker.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?