Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Pandemi Corona Buat Krisis Maskapai Terburuk Sepanjang Masa


Industri penerbangan diterpa krisis terhebat sepanjang masa imbas wabah virus corona. Pandemi ini bak badai yang membuat pesawat-pesawat gagal terbang.

Menurut United Airlines wabah penyakit yang mulai muncul pada Desember 2019 itu menyebabkan permintaan perjalanan udara turun drastis.

Analis yang disurvei penyedia data infrastruktur dan pasar keuangan, Refinitiv, memperkirakan pendapatan maskapai turun lebih dari 200 persen pada kuartal pertama. Tak berbeda jauh, data Factset juga menyebut setiap maskapai akan merugi.
Dikutip dari CNN.com, perusahaan penerbangan diprediksi mengalami kerugian miliaran dolar AS pada kuartal I 2020. Padahal, periode yang sama tahun lalu masih mencetak laba.
United menyebut telah menelan kerugian hingga US$2,1 miliar atau Rp32,7 triliun pada kuartal pertama, sementara kerugian operasi akan mencapai US$1 miliar sekitar Rp15,5 triliun.

Situasi ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah. Penurunan perjalanan udara setelah serangan 11 September 2001 atau resesi 2008 hingga 2009 bukan tandingan bagi imbas pandemi virus corona.

United, Delta, dan America, yang merupakan operator utama di AS saat ini sebelumnya tak pernah melaporkan kerugian dalam lebih dari lima tahun.

Sebenarnya pada Januari, Februari, hingga awal Maret bisnis maskapai berlangsung normal sebelum kemudian terjun bebas.
Administrasi Keamanan Transportasi AS mencatat jumlah orang di bandara turun 95 persen dibanding April tahun lalu. Sebelumnya pada Maret tercatat penurunan 51 persen.

Maskapai-maskapai sudah memangkas jadwal penerbangan bulan Mei hingga 90 persen dan memprediksi kondisi yang sama bakal berlanjut setidaknya hingga 2021.

Untuk menghadapi krisis, kongres AS menyetujui hibah dan pinjaman berbunga rendah senilai US$25 miliar sekitar Rp389 triliun, dengan syarat maskapai tidak memberlakukan pemutusan hubungan kerja, merumahkan karyawan, atau pemotongan gaji terhadap 750 ribu karyawan hingga September.

Analis maskapai JPMorgan Chase menulis pekerja industri maskapai akan menghitung hari hingga Oktober atau setelah melewati batas durasi syarat pemerintah AS.

"Sayangnya kami tidak melihat cara maskapai penerbangan AS untuk menghindari PHK besar-besaran," tulis Jamie Baker.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)