Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Pandemi Corona Buat Krisis Maskapai Terburuk Sepanjang Masa


Industri penerbangan diterpa krisis terhebat sepanjang masa imbas wabah virus corona. Pandemi ini bak badai yang membuat pesawat-pesawat gagal terbang.

Menurut United Airlines wabah penyakit yang mulai muncul pada Desember 2019 itu menyebabkan permintaan perjalanan udara turun drastis.

Analis yang disurvei penyedia data infrastruktur dan pasar keuangan, Refinitiv, memperkirakan pendapatan maskapai turun lebih dari 200 persen pada kuartal pertama. Tak berbeda jauh, data Factset juga menyebut setiap maskapai akan merugi.
Dikutip dari CNN.com, perusahaan penerbangan diprediksi mengalami kerugian miliaran dolar AS pada kuartal I 2020. Padahal, periode yang sama tahun lalu masih mencetak laba.
United menyebut telah menelan kerugian hingga US$2,1 miliar atau Rp32,7 triliun pada kuartal pertama, sementara kerugian operasi akan mencapai US$1 miliar sekitar Rp15,5 triliun.

Situasi ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah. Penurunan perjalanan udara setelah serangan 11 September 2001 atau resesi 2008 hingga 2009 bukan tandingan bagi imbas pandemi virus corona.

United, Delta, dan America, yang merupakan operator utama di AS saat ini sebelumnya tak pernah melaporkan kerugian dalam lebih dari lima tahun.

Sebenarnya pada Januari, Februari, hingga awal Maret bisnis maskapai berlangsung normal sebelum kemudian terjun bebas.
Administrasi Keamanan Transportasi AS mencatat jumlah orang di bandara turun 95 persen dibanding April tahun lalu. Sebelumnya pada Maret tercatat penurunan 51 persen.

Maskapai-maskapai sudah memangkas jadwal penerbangan bulan Mei hingga 90 persen dan memprediksi kondisi yang sama bakal berlanjut setidaknya hingga 2021.

Untuk menghadapi krisis, kongres AS menyetujui hibah dan pinjaman berbunga rendah senilai US$25 miliar sekitar Rp389 triliun, dengan syarat maskapai tidak memberlakukan pemutusan hubungan kerja, merumahkan karyawan, atau pemotongan gaji terhadap 750 ribu karyawan hingga September.

Analis maskapai JPMorgan Chase menulis pekerja industri maskapai akan menghitung hari hingga Oktober atau setelah melewati batas durasi syarat pemerintah AS.

"Sayangnya kami tidak melihat cara maskapai penerbangan AS untuk menghindari PHK besar-besaran," tulis Jamie Baker.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025