Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pakar Minta RI Pakai Sistem IT Seperti Korsel Putus Covid-19


Pengamat kebijakan dan komunikasi strategis dari Universitas Daegu, Korea Selatan, Profesor Gil H. Park menyarankan agar pemerintah Indonesia mengimplementasikan sistem teknologi informasi (IT) berbasis big data dan georeference seperti pemerintah Korea Selatan dalam mengendalikan penyebaran pandemi COVID-19.

"Pemerintah Indonesia perlu membuat sistem pengelolaan yang baik di tataran pemerintah pusat terkait pendekatan georeference dan big data untuk menanggulangi pandemi COVID-19 dalam jangka panjang," ujar Gil H. Park dalam seminar daring yang digelar CSIS Jakarta, mengutip Antara, Rabu (15/4).

Dia mengatakan bahwa jika pemerintah Indonesia dan sejumlah ahli berupaya membangun sistem informasi semacam itu akan sangat membantu bukan hanya saat mengatasi COVID-19, namun juga dalam hal menanggulangi pandemi penyakit lainnya, risiko ekonomi dan sosial, serta bencana.

"Saya menilai teknologi informasi serta komunikasi dan big data terkait data-data lokasi, koordinat atau georeference sangat penting dalam upaya memerangi pandemi Covid-19," kata Park yang juga menjabat sebagai Head of the Regional and Policy Institute tersebut.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa terdapat platform dan aplikasi berteknologi big data di Korea Selatan, di mana salah satu contohnya adalah platform sistem suplai masker bagi kebutuhan publik.

Melalui sistem tersebut pemerintah Korea Selatan dapat mengetahui jumlah stok masker untuk apotek. Dengan demikian penerapan teknologi big data membantu pemerintah Korea Selatan untuk mengetahui ketersediaan stok masker secara nasional.

Contoh lainnya adalah aplikasi yang dikembangkan perusahaan startup Korea dan dapat diunduh secara gratis oleh masyarakat umum, di mana aplikasi itu menyediakan informasi publik da mendeteksi lokasi kasus-kasus konfirmasi atau positif COVID-19 dalam jarak 100 meter di layar telepon pintar sehingga dapat memperingatkan masyarakat untuk menghindari lokasi itu.

Gil H. Park juga mengungkapkan selain faktor penerapan teknologi komunikasi dan informasi, terdapat beberapa faktor kunci bagaimana Korea Selatan berhasil menanggulangi pandemi COVID-19.
Pertama, Korea Selatan berhasil membuat dan mengembangkan alat tes COVID-19 oleh perusahaan swasta serta pemerintah Korea menyetujuinya melalui public emergency use authorization.

Kemudian terdapat pengendalian penyebaran COVID-19 yang tersistematis oleh KCDC dan pemerintah pusat Korea Selatan. Selain itu masyarakat Korea Selatan bekerjasama dan berusaha mematuhi pedoman, arahan pemerintah serta pembatasan sosial yang diberlakukan dalam rangka menanggulangi penyebaran COVID-19.

"Contoh pembatasan sosial di Korea dijalankan oleh warganya berdasarkan pemahaman sosial dan kesadaran mereka sendiri bukan karena anjuran kesehatan oleh pemerintah. Di samping itu jika salah satu anggota keluarga ada yang terinfeksi maka anggota keluarga itu secara sukarela mau mengisolasi dirinya di dalam kamar," ujar Gil H. Park.

Sebelumnya, Indonesia juga disarankan menerapkan teknologi sistem informasi seperti yang dilakukan Singapura dalam membantu melakukan pelacakan terhadap individu yang melakukan atau menjalin kontak dengan kasus-kasus COVID-19 di masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini