Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

The Fed Tahan Bunga, Rupiah Perkasa Rp15.140 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.140 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot Kamis (20/4). Posisi ini menguat 155 poin atau 1,01 persen dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.295 per dolar AS.

Penguatan mata uang Garuda senada dengan pergerakan mata uang lainnya di Asia. Tercatat, won Korea Selatan menguat 0,8 persen, baht Thailand 0,1 persen, dan dolar Singapura 0,06 persen.

Begitu pula dengan yuan China yang menguat 0,21 persen, ringgit Malaysia 0,61 persen, yen Jepang 0,01 persen, dan peso Filipina 0,18 persen. Sementara, dolar Hong Kong bergerak stagnan.

Di sisi lain, mayoritas mata uang negara maju justru bergerak di zona merah. Dolar Australia terpantau terkoreksi 0,17 persen, euro Eropa 0,04 persen, poundsterling Inggris 0,06 persen, dan dolar Kanada 0,04 persen.
Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra menyatakan rupiah berpotensi menguat hari ini dalam rentang Rp15.150 per dolar AS hingga Rp15.450 per dolar AS. Hal ini dipengaruhi oleh sikap The Fed yang masih mempertahankan suku bunga acuan di nol persen.

"Sentimen cukup positif pagi ini di pasar keuangan," ucap Ariston
Sementara, faktor positif lainnya, antara lain harga minyak yang mulai bangkit (rebound), pelonggaran lockdown di sejumlah negara karena kasus virus corona yang mulai menurun, dan aktivitas manufaktur China yang mulai tumbuh pada April 2020.

"Sentimen positif tersebut memberikan indikasi awal ke pasar bahwa ekonomi global mulai pulih," pungkas Ariston.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini