Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Ahli Tak Jamin Rapid Test Corona Asli Dijual Online


Alat tes virus corona (SARS-CoV-2) makin marak dijual di berbagai toko online seiringan dengan bertambahnya jumlah pasien positif corona di Indonesia.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto telah mengatakan rapid test yang dijual secara online merupakan barang ilegal.

Statusnya sebagai barang ilegal membuat masyarakat harus waspada terhadap barang tersebut yang dijual di toko online. Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo mengatakan memang cukup sulit untuk membedakan rapid test corona yang asli dengan yang palsu.
Akan tetapi ada beberapa hal dasar yang bisa dijadikan patokan untuk membedakan alat rapid test asli dengan yang palsu. Hal pertama yang harus dilihat oleh masyarakat adalah dari isi alat rapid test tersebut. Jangan sampai masyarakat mendapat alat rapid test yang tak sesuai untuk uji corona.

"Rapid tes itu kontennya kompleks, ada antigen dan ada antibodi khusus. Kalau palsu kan bisa hanya kertas kosongan, casing plastik tidak jelas," ujar Ahmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (14/4).

Lebih lanjut, Ahmad juga mengatakan dibutuhkan uji lab untuk membedakan alat rapid test palsu dengan yang asli.

"Dengan menambahkan antibodi yang telah divalidasi bahwa itu memang antibodi anti SARS-CoV-2," ujar Ahmad.
Dihubungi terpisah, Kepala Lembaga Biomolekuler Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan untuk membuktikan keasliannya agar melihat produk atau merek rapid test tersebut apakah sudah disetujui atau didukung oleh pemerintah baik di Indonesia atau negara lain.

"Caranya mudah. Lihat apakah produknya dan lab-nya, sudah di endorse oleh pemerintah yang bersangkutan," kata Amin.

Ahmad menyarankan agar masyarakat tidak membeli mandiri alat rapid test untuk membuktikan terinfeksi virus Corona karena belum ada izin impor atau edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Uji lab nya rumit dan sangat menyusahkan untuk bedakan asli dan palsu. Itu tujuannya harus ada izin impor dari otoritas, yaitu Kemenkes. Maka penggunanya hanya boleh Kemenkes," tutur Ahmad.
Ahmad mengatakan tidak ada seorang pun yang akan menjamin keaslian alat rapid test yang dibeli mandiri oleh masyarakat di toko online.

"Itu alasannya Kementerian Kesehatan memastikan hanya boleh dilakukan instansi Kemenkes untuk perlindungan masyarakat sendiri," ujar Ahmad.


menemukan berbagai e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, Bhinneka dan Shopee menjual alat deteksi cepat corona yang bisa mengeluarkan hasil tes hanya dalam hitungan puluhan menit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini