Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

60 Juta Pekerja Eropa Terancam Potong Gaji Hingga PHK


McKinsey dalam laporannya menyebutkan sekitar 60 juta pekerja di seluruh Eropa terancam dipotong gaji hingga terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena pandemi virus corona.

McKinsey juga memperkirakan satu dari empat pekerjaan di Uni Eropa dan Inggris berisiko mengalami pengurangan jam kerja, pemotongan upah, dirumahkan sementara hingga PHK permanen.

Jenis pekerjaan berisiko tinggi di antaranya adalah profesi yang memerlukan kontak dengan orang lain seperti kasir, koki, pekerja konstruksi, staf hotel, hingga aktor. Seperti dilansir dari CNN.com, Senin (20/4), tercatat ada sekitar 55 juta orang menjalani profesi tersebut.

Dari jumlah yang disebut di atas, sejumlah 80 persen pekerjaan berisiko tinggi dijalani orang-orang yang tidak memiliki gelar sarjana.
Mereka mengatakan virus akan membuat tingkat pengangguran Uni Eropa melonjak dari sekitar 6 persen menjadi lebih dari 11 persen. Bahkan, lonjakan lebih tinggi bisa terjadi seandainya virus tersebut tidak lekas tertangani.

Dengan asumsi Eropa gagal menangani pandemi virus corona dalam masa tiga bulan, tingkat pengangguran Uni Eropa akan mencapai puncaknya, di kisaran 11,2 persen, pada tahun 2021.

"Melindungi pekerjaan yang berisiko di perusahaan sehat dan produktif adalah hal yang sangat penting. Kehilangan pekerjaan tidak hanya akan menjadi tragedi bagi individu-individu, tetapi juga akan sangat menyakitkan dari perspektif ekonomi," tulis laporan McKinsey.
Guna mengatasi masalah tenaga kerja, McKinsey mengatakan pemerintah dan sektor bisnis perlu bergerak cepat. Perusahaan harus memangkas biaya, memisahkan jam kerja, hingga memperbolehkan kerja jarak jauh jika memungkinkan.

Selain itu pemerintah juga harus memberikan jaminan pinjaman, keringanan pajak, dan pembayaran jaminan untuk pekerja. Beberapa hal sudah dilakukan di seluruh Eropa, seperti langkah pemerintah Inggris menanggung 80 persen gaji pekerja hingga setidaknya tiga bulan ke depan hingga maksimum 2.500 poundsterling per bulan.

Uni Eropa juga sudah mempersiapkan paket bantuan virus corona senilai 100 miliar euro atau sekitar Rp1,6 triliun serta ratusan miliar pinjaman untuk bisnis dan kredit.
Sementara itu pasar tenaga kerja di Amerika Serikat luluh lantak lantaran pandemi COVID-19. Sekitar 22 juta orang atau sekitar 13,5 persen dari angkatan kerja mengajukan klaim sebagai pengangguran sejak 14 Maret.

Tingkat pengangguran negara tersebut naik menjadi 4,4 persen pada Maret dan diperkirakan mencapai dua digit pada April. Banyak ekonom memprediksi pengangguran di AS akan mencapai 15 persen atau lebih.

Berkaca pada krisis keuangan global 2008, AS mampu menurunkan tingkat pengangguran dibanding Eropa. Hal tersebut kemungkinan karena peraturan pasar tenaga kerja yang lebih fleksibel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini