Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Minyak AS Amblas Hampir 25 Persen di Awal Pekan


Harga minyak mentah dunia terperosok kian dalam setelah anjlok 25 persen pada perdagangan Senin (27/4), waktu AS. Investor yang khawatir memilih angkat kaki karena kurangnya tempat penyimpanan yang tersedia.

Mengutip Antara, Selasa (28/4), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni turun US$1,45 atau 6,76 persen ke posisi US$19,99 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun US$4,16 atau 24,56 persen ke US$12,78 per barel.

Di awal perdagangan, WTI sempat tertekan hingga ke level US$11,88 dolar AS per barel.

Kurangnya tempat penyimpanan menjadi kendala meski permintaan bahan bakar terus naik sebesar 30 persen secara global. Menurut data Kpler, pada pekan lalu, sekitar 85 persen penyimpanan darat di seluruh dunia telah penuh.
Sontak, kekhawatiran terjadi. Pedagang menyatakan turunnya kontrak minyak mentah sebagian dikarenakan kaburnya dana investor dari kontrak Juni demi menghindari jebakan harga minyak yang sempat minus US$37,63 dolar AS per barel.

Dana Minyak AS LP, produk bursa minyak terbesar, menyatakan akan mengalihkan kepemilikannya dalam kontrak lebih baru dan menjual seluruh kepemilikannya dalam kontrak Juni.

"Pengarsipan USO merusak kepercayaan di pasar minyak untuk Juni dan telah menurunkan harga hari ini. Namun itu tidak mengubah prospek ekonomi untuk Juni yang selalu akan sulit," ungkap Ekonom The Economist Intelligence Unit Cailin Birch.

Sementara, menurut pelaku pasar, stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma untuk WTI naik lebih dari 6 persen dalam seminggu hingga 24 April 2020 menjadi 65 juta barel.

"Penggunaan di Cushing sedikit melambat, yang menandakan mereka menemukan tempat alternatif untuk menyimpan minyak atau penurunan besar dalam produksi," kata analis pasar senior Price Futures Group Phil Flynn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini