Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Memaknai 'Postingan' #untiltomorrow di Tengah Pandemi Corona


Tantangan di Instagram dan Facebook #untiltomorrow sempat viral pada minggu terakhir Maret di tengah wabah virus corona Covid-19. Tantangan ini mengajak para pemilik akun untuk mengunggah foto konyol mereka dan diberi tanda pagar #untiltomorrow.

Foto harus tetap ada pada laman mereka, setidaknya selama satu hari sebelum dapat dihapus. Fenomena tantangan yang cepat merebak dalam waktu kurang dari 1 minggu ini, diikuti lebih dari 3 juta posting.

Pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan mengatakan para ahli komunikasi dan informasi digital menduga meroketnya tantangan ini dipengaruhi oleh kondisi Covid-19 yang membuat situasi media sosial mencekam dan menakutkan.

Firman mengatakan masyarakat di media sosial mengalihkan diri dari informasi Covid-19 dengan mengikuti tantangan until tomorrow.

"Masyarakat media sosial butuh informasi yang lebih segar dan mengendorkan ketegangan mental. Masyarakat membutuhkan informasi pengalih, agar jiwanya tetap sehat," kata Firman
Firman juga menjelaskan until tomorrow bisa bisa dibaca sebagai dua hal. Pertama, jika dikaitkan dengan penularan Covid-19, itulah gambaran nyata virus menyebar, menular dan menginfeksi banyak manusia. Dalam waktu singkat, menjangkau masyarakat demikian banyak dan cepat.

Kedua, tantangan itu bisa demikian luas dan cepat menyebar, hanya bisa terjadi di dalam masyarakat jejaring. Firman mengatakan masyarakat jejaring atau network society banyak dikemukakan para ilmuwan sosial.

Salah satunya adalah Manuel Castells yang mengemukakan pikirannya lewat trilogi bukunya The Rise of Network Society, 1996-1998.

"Inti pemikirannya tentang network society adalah terjadinya perubahan bentuk masyarakat akibat masifnya penggunaan perangkat elektronik mikro ponsel pintar, tab, laptop dan lain-lain. Masyarakat terhubung satu sama lain membentuk jejaring, dengan informasi sebagai bahan bakunya," ujar Firman.

Dalam kasus until tomorrow, informasi yang kuat di tengah konteks kejenuhan mengkonsumsi Covid-19, menyebabkan terbentuknya jejaring pengalihan.
Firman mengatakan terbentuknya jejaring informasi  yang viral ini lebih mudah dibayangkan dengan analogi obat nyamuk bakar. Dengan adanya pembakaran dengan arah dari dalam ke luar, yang makin lama makin besar lingkarannya.

"Melebarnya lingkaran menggambarkan makin banyaknya orang yang diterpa informasi sama dan terpengaruh. Tentu saja, dengan informasi yang sama itu, timbul implikasi pembentukan persepsi yang serupa ala until tomorrow , posting foto konyol," tutur Firman.

Pemerintah Bisa Manfaatkan Jejaring Informasi Untuk Dorong Himbauan

Firman mengatakan kekuatan pemerintah terbatas untuk menghadapi ancaman penularan yang luas dan cepat.

Oleh karena itu, ia menyarankan dapat dikembangkan pola komunikasi yang berbasis masyarakat jejaring untuk mengeluarkan himbauan physical distancing, #workfromhome, #dirumahaja hingga Pembatasan Sektor Berskala Besar (PSBB).
Pola komunikasi ini mengandalkan kelompok usia muda yang berjumlah 35 persen dari sekitar 165 juta pengguna internet di Indonesia.

"Kemenkominfo memetakan komunitas-komunitas yang 'didengar', punya follower banyak, kreatif memproduksi konten. Kelompok muda ini menginisiasi pesan-pesan tunggal yang harus segera dipatuhi. PSBB ditularkan lewat komunitas komunitas, dibuat menular seperti until tomorrow challenge, " tutur Firman.

Firman mengatakan upaya tersebut diikuti dengan posting secara masif terkait dipatuhinya pesan atau himbauan oleh berbagai kelompok. Sesuai teori social proof yang dikemukakan oleh Richard Shutton, persepsi masyarakat dapat terbentuk berdasar bukti sosial kepatuhan masyarakat mayoritas.

"Jadi jika hari ini PSBB, psysical distancing atau #dirumahaja yang dianggap kebenaran untuk mencegah penularan Covid-19, maka gaungkanlah secepat secepatnya sehingga menjadi norma baru yang dipatuhi. Lewat masyarakat jejaring yang aktif di media sosial, upaya itu tak mustahil," tutur Firman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)