Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rencana Damai Dagang AS-China Dorong Harga Minyak Naik


Harga minyak mentah dunia berakhir di zona hijau pada perdagangan Kamis (12/12). Penguatan terjadi karena timbul harapan di pasar bahwa Amerika Serikat (AS) dan China akan segera mencapai kesepakatan perang dagang fase pertama.

Mengutip Antara, harga minyak berjangka Brent naik sebesar US$0,48 per barel ke level US$64,2 per barel. Kemudian, harga minyak WTI meningkat US$0,42 per barel menjadi US$59,18 per barel.

Presiden AS Donald Trump menuliskan dalam akun pribadi twitter nya bahwa AS sudah hampir sepakat dengan China. Terlebih, AS juga sedang mempertimbangkan penundaan tarif yang akan berlaku pada 15 Desember 2019 mendatang.

"Sulit untuk menarik kesimpulan tegas dari situasi saat ini. Tampaknya sudah dekat (dengan kesepakatan). Tapi semua pihak sudah menunggu kesepakatan perang dagang ini terjadi," ungkap Wakil Presiden Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian, dikutip Jumat (13/12).
Salah satu sumber menyatakan AS dan China sebenarnya telah mencapai kesepakatan perdagangan secara prinsip. Sumber itu menyebut AS akan segera mengumumkan hal tersebut.

Trump sendiri telah berdiskusi dengan penasehat perdagangan utamanya kemarin. Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan kepada senator bahwa Gedung Putih akan segera mengumumkan keputusan AS terkait pengenaan tarif bea impor terhadap produk China.

Seluruh informasi ini menjadi angin segar untuk harga minyak. Maklum, perkembangan perang dagang AS dan China akan mempengaruhi prospek permintaan minyak ke depannya.

Jika prospeknya buruk, maka harga minyak juga akan bergerak negatif. Sebaliknya, jika pemintaan meningkat, artinya harga komoditas itu bakal menguat.

Sebelumnya, harga minyak dunia melorot karena pasokan di AS meningkat. Harga minyak Brent terkoreksi sebesar US$0,62 per barel ke level US$63,72 per barel dan WTI turun US$0,48 per barel menjadi US$58,76 per barel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini