Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Airnav Sebut Penerbangan Domestik Turun 17,5 Persen Pada 2019


Perum Lembaga Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau Airnav Indonesia mencatat pergerakan penerbangan domestik turun hingga 17,5 persen sepanjang 2019.

Penurunan salah satunya terjadi di Bandara Soekarno-Hatta. Berdasarkan data Angkasa Pura II, penumpang di bandara tersebut turun dari 65,6 juta orang pada 2018 lalu menjadi tinggal 54,2 juta orang pada 2019, atau berkurang 11 juta orang.

"Penurunan pergerakan memang berat," kata Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Riyanto seperti dikutip dari Antara, Kamis (26/12).

Beruntung katanya, penurunan tersebut tak diikuti oleh pergerakan penerbangan internasional. Menurutnya, pergerakan penerbangan internasional memang turun.
Namun, untuk penerbangan internasional, penurunan pergerakan penerbangan hanya 0,1 persen. Penurunan tersebut membuat pendapatan Airnav tertolong.

"Pendapatan kami 60 persen-78 persen lebih banyak dari internasional," katanya.

Novie mengatakan penurunan pergerakan penerbangan tak hanya terjadi di Indonesia. Kondisi sama juga terjadi di luar negeri.

Menurutnya, berdasarkan data International Air Transport Association (IATA), secara global penumpang udara sepanjang 2019 ini memang turun 3 persen dibandingkan 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)