Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Harga Minyak Naik Terdorong Pangkas Produksi OPEC


Harga minyak mentah dunia berbalik menguat pada perdagangan Rabu (10/12). Keputusan Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) dan sekutunya mengenai penambahan pemangkasan produksi masih memberikan sentimen positif untuk harga komoditas tersebut.

Mengutip Antara, harga minyak berjangka Brent naik tipis sebesar US$0,09 per barel ke level US$64,34 per barel. Kemudian, harga minyak WTI menguat US$0,22 per barel menjadi US$59,24 per barel.

OPEC dan sekutunya telah memutuskan untuk mengurangi lebih banyak produksi minyak pada kuartal I 2020 sebesar 500 barel per hari. Alhasil, jika semula kelompok itu hanya memangkas produksi 1,2 juta barel per hari, nantinya bertambah menjadi 1,7 juta barel per hari.

"Para produsen mengumumkan pengurangan produksi pekan lalu, pasar bertahan sedikit," kata Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian, dikutip Rabu (11/12).
Hanya saja, pasar tetap resah menanti kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Hal itu mempengaruhi permintaan minyak ke depannya.

Para perunding AS dan China saat ini masih berupaya mencapai kesepakatan dagang. Kedua pihak akan berunding pada 15 Desember nanti, ketika tarif baru AS terhadap barang-barang China dimulai.

Diketahui, pemerintah China sebelumnya mengumumkan bahwa pihaknya akan menghapus tarif impor sejumlah barang dari AS. Upaya China dinilai positif dalam pembahasan perundingan perang dagang dengan AS.

Sebelumnya, harga minyak sempat terkoreksi lantaran ekspor China menurun dalam empat bulan terakhir. Pelemahan ekspor Negeri Tirai Bambu tersebut dipengaruhi oleh perang dagang.
Pihak bea dan cukai China mengumumkan nilai ekspor turun 1,1 persen pada November 2019. Angkanya berbanding terbalik dengan proyeksi sejumlah pihak yang naik 1 persen.

Tercatat, pada perdagangan Senin (9/12), harga minyak berjangka Brent terkoreksi 0,25 persen ke level US$64,25 per barel. Kemudian dan WTI turun 0,24 persen di level US$59,02 per barel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)