Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Ekonomi AS Tumbuh 2,1 Persen Walau Tertekan Perang Dagang Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,1 persen pada kuartal ketiga . Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari proyeksi bulan lalu yang hanya 1,9 persen. Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi. Meski lebih cepat dari perkiraan dalam survei nasional yang dilakukan bank sentral AS (The Fed), ekonom mencatat pertumbuhan tersebut masih dibayangi masalah negatif. Salah satunya berkaitan dengan investasi bisnis yang turun 2,7 persen. Masalah lain berkaitan dengan perlambatan konsumsi. Perlambatan tercermin dari perusahaan yang menimbun persediaan barang mereka. Perlambatan konsumsi tersebut cukup memberikan kekhawatiran. Maklum, berkontribusi sekitar 70 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) AS. "Singkatnya, sedikit lebih kuat dari sebelumnya, tetapi terutama karena inventaris. Data itu terus menunjukkan perlambatan pertumbuhan, tetapi tidak secara dramatis," kata ekonom High Frequency Economics Jim O'Sullivan seperti dikutip dari AFP, Kamis (28/11). Sementara itu ekonom dari Oxford Economics Gregory Daco mengatakan data terbaru pertumbuhan AS tersebut menunjukkan ekonomi tidak akan jatuh seperti yang diramalkan beberapa pihak belakangan ini. Ia hanya memperkirakan ekonomi AS hanya akan melambat. Perlambatan dipicu oleh perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China belakangan ini. "Kemerosotan industri global yang masih berlangsung, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang terus-menerus, dan pertumbuhan pendapatan yang dingin semuanya menunjuk pada aktivitas yang lebih lemah dalam beberapa bulan mendatang," katanya dalam sebuah analisis.


Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,1 persen pada kuartal ketiga . Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari proyeksi bulan lalu yang hanya 1,9 persen.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi. Meski lebih cepat dari perkiraan dalam survei nasional yang dilakukan bank sentral AS (The Fed), ekonom mencatat pertumbuhan tersebut masih dibayangi masalah negatif.

Salah satunya berkaitan dengan investasi bisnis yang turun 2,7 persen. Masalah lain berkaitan dengan perlambatan konsumsi. 

Perlambatan tercermin dari perusahaan yang menimbun persediaan barang mereka.  Perlambatan konsumsi tersebut cukup memberikan kekhawatiran.
Maklum, berkontribusi sekitar 70 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) AS.

"Singkatnya, sedikit lebih kuat dari sebelumnya, tetapi terutama karena inventaris. Data itu terus menunjukkan perlambatan pertumbuhan, tetapi tidak secara dramatis," kata ekonom High Frequency Economics Jim O'Sullivan seperti dikutip dari AFP, Kamis (28/11).

Sementara itu ekonom dari Oxford Economics Gregory Daco mengatakan data terbaru pertumbuhan AS tersebut menunjukkan ekonomi tidak akan jatuh seperti yang diramalkan beberapa pihak belakangan ini. Ia hanya memperkirakan ekonomi AS hanya akan melambat.

Perlambatan dipicu oleh perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China belakangan ini.

"Kemerosotan industri global yang masih berlangsung, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang terus-menerus, dan pertumbuhan pendapatan yang dingin semuanya menunjuk pada aktivitas yang lebih lemah dalam beberapa bulan mendatang," katanya dalam sebuah analisis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini