Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Ekonomi AS Tumbuh 2,1 Persen Walau Tertekan Perang Dagang Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,1 persen pada kuartal ketiga . Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari proyeksi bulan lalu yang hanya 1,9 persen. Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi. Meski lebih cepat dari perkiraan dalam survei nasional yang dilakukan bank sentral AS (The Fed), ekonom mencatat pertumbuhan tersebut masih dibayangi masalah negatif. Salah satunya berkaitan dengan investasi bisnis yang turun 2,7 persen. Masalah lain berkaitan dengan perlambatan konsumsi. Perlambatan tercermin dari perusahaan yang menimbun persediaan barang mereka. Perlambatan konsumsi tersebut cukup memberikan kekhawatiran. Maklum, berkontribusi sekitar 70 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) AS. "Singkatnya, sedikit lebih kuat dari sebelumnya, tetapi terutama karena inventaris. Data itu terus menunjukkan perlambatan pertumbuhan, tetapi tidak secara dramatis," kata ekonom High Frequency Economics Jim O'Sullivan seperti dikutip dari AFP, Kamis (28/11). Sementara itu ekonom dari Oxford Economics Gregory Daco mengatakan data terbaru pertumbuhan AS tersebut menunjukkan ekonomi tidak akan jatuh seperti yang diramalkan beberapa pihak belakangan ini. Ia hanya memperkirakan ekonomi AS hanya akan melambat. Perlambatan dipicu oleh perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China belakangan ini. "Kemerosotan industri global yang masih berlangsung, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang terus-menerus, dan pertumbuhan pendapatan yang dingin semuanya menunjuk pada aktivitas yang lebih lemah dalam beberapa bulan mendatang," katanya dalam sebuah analisis.


Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh 2,1 persen pada kuartal ketiga . Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari proyeksi bulan lalu yang hanya 1,9 persen.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi. Meski lebih cepat dari perkiraan dalam survei nasional yang dilakukan bank sentral AS (The Fed), ekonom mencatat pertumbuhan tersebut masih dibayangi masalah negatif.

Salah satunya berkaitan dengan investasi bisnis yang turun 2,7 persen. Masalah lain berkaitan dengan perlambatan konsumsi. 

Perlambatan tercermin dari perusahaan yang menimbun persediaan barang mereka.  Perlambatan konsumsi tersebut cukup memberikan kekhawatiran.
Maklum, berkontribusi sekitar 70 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) AS.

"Singkatnya, sedikit lebih kuat dari sebelumnya, tetapi terutama karena inventaris. Data itu terus menunjukkan perlambatan pertumbuhan, tetapi tidak secara dramatis," kata ekonom High Frequency Economics Jim O'Sullivan seperti dikutip dari AFP, Kamis (28/11).

Sementara itu ekonom dari Oxford Economics Gregory Daco mengatakan data terbaru pertumbuhan AS tersebut menunjukkan ekonomi tidak akan jatuh seperti yang diramalkan beberapa pihak belakangan ini. Ia hanya memperkirakan ekonomi AS hanya akan melambat.

Perlambatan dipicu oleh perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China belakangan ini.

"Kemerosotan industri global yang masih berlangsung, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang terus-menerus, dan pertumbuhan pendapatan yang dingin semuanya menunjuk pada aktivitas yang lebih lemah dalam beberapa bulan mendatang," katanya dalam sebuah analisis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)