Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Paus Bantu Serap Karbon di Atmosfer


Ikan Paus ternyata memiliki peran untuk menjaga keberadaan oksigen di Bumi. Tahi ikan ini membantu produksi oksigen, sementara tubuhnya menyerap karbondioksida. Sehingga keberadaan Paus turut membantu melawan pemanasan global dan perubahan iklim Bumi.

Tubuh paus yang penuh lemak dan protein menyimpan karbon seperti pohon raksasa. Ketika Paus mati dan tubuhnya tenggelam ke dasar laut, tubuhnya menyimpan karbon yang tak kembali dari atmosfer selama ratusan hingga ribuan tahun.

Dalam studi yang dipublikasikan pada 2010, diperkirakan paus-paus ini telah membawa 30 ribu ton karbon yang dibawa ke dalam laut ketika tubuh mereka mati dan tenggelam. Jika populasi paus-paus ini kembali ke jumlah sebelum era perburuan paus, penulis memperkirakan penurunan karbon akan lebih besar menjadi 160.000 ton per tahun.
"Paus Sperma (Physeter macrocephalus) merangsang produksi primer (oksigen) baru dan ekspor karbon ke laut dalam," tulis penelitian itu.


Ketika paus-paus ini hidup, mereka bahkan menangkap lebih banyak karbon di atmosfer. Pasalnya, kotoran hewan ini melepaskan banyak nutrisi yang dibutuhkan plankton untuk menarik karbondioksida dari atmosfer lewat fotosintesis. Tahi Paus mengandung nitrogen, fosfor, dan zat besi ke laut.

Studi lain pada 2010 menunjukkan 12 ribu Paus Sperma di Laut Selatan menarik 200 ribu karbon dari atmosfer tiap tahun. Angka ini dihitung dari kotoran yang mereka keluarkan telah menstimuli pertumbuhan fitoplankton.

Sekar Mira, Peneliti Paus di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI membenarkan hal tersebut. Menurutnya hal ini diteliti oleh studi dari Lavery pada tahun 2010.

"Di estimasi bahwa populasi sperm whales (paus sperma) dari laut belahan bumi selatan yang kurang lebih sebanyak 12.000 ekor dapat berkontribusi menimbun karbon (carbon sink ) di lautan sebanyak 2x 100ribu tonsC/yrs," tulisnya saat dihubungi
Sehingga dengan fakta ini, menurutnya keragaman hayati patut dimasukkan dalam hitung-hitungan ganti rugi jejak karbon.

"Biodiversitas harus dimasukkan dalam setiap perhitungan carbon budgeting dan khususnya risk assessment dalam perhitungan cost and benefit dari aktivitas manusia," tandasnya.

Saat ini ada sekitar 1,3 juta paus di lautan Bumi. Jika jumlah mereka dikembalikan pada era sebelum perburuan paus, maka diperkirakan terdapat 4 dan 5 juta Paus di lautan.
"Fungsi Samudra Selatan untuk menyerap karbon di telah berkurang dengan makin paus sperma dalam skala besar selama perburuan paus industri.

Dengan jumlah ini, berarti Paus Besar dapat menangkap sekitar 1,7 miliar ton karbon dioksida setiap tahun. Total angka ini melebihi dari total emisi karbon tahunan Brasil, seperti dikutip dari National Geographic.

"Paus sperma sendiri kini terancam punah, dan mirisnya masih banyak diburu di beberapa lokasi di Indonesia," lanjut Mira.

Padahal, ia menyebut kalau seluruh mamalia laut saat ini sudah masuk ke dalam undang-undang satwa dilindungi. Namun ia menyayangkan penegakkan hukum belum berpihak kepada alam.

Padahal menurutnya setiap entitas biodiversitas yg ada di bumi saling terkait. Kadang manusia tidak sadar seberapa berharganya kepunahan seekor satwa dari alam. Padahal keberadaan mereka memberi kontribusi penting pada keseimbangan alam. Dalam hal ini, Paus ikut membantu mengurangi karbon di udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini