Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Paus Bantu Serap Karbon di Atmosfer


Ikan Paus ternyata memiliki peran untuk menjaga keberadaan oksigen di Bumi. Tahi ikan ini membantu produksi oksigen, sementara tubuhnya menyerap karbondioksida. Sehingga keberadaan Paus turut membantu melawan pemanasan global dan perubahan iklim Bumi.

Tubuh paus yang penuh lemak dan protein menyimpan karbon seperti pohon raksasa. Ketika Paus mati dan tubuhnya tenggelam ke dasar laut, tubuhnya menyimpan karbon yang tak kembali dari atmosfer selama ratusan hingga ribuan tahun.

Dalam studi yang dipublikasikan pada 2010, diperkirakan paus-paus ini telah membawa 30 ribu ton karbon yang dibawa ke dalam laut ketika tubuh mereka mati dan tenggelam. Jika populasi paus-paus ini kembali ke jumlah sebelum era perburuan paus, penulis memperkirakan penurunan karbon akan lebih besar menjadi 160.000 ton per tahun.
"Paus Sperma (Physeter macrocephalus) merangsang produksi primer (oksigen) baru dan ekspor karbon ke laut dalam," tulis penelitian itu.


Ketika paus-paus ini hidup, mereka bahkan menangkap lebih banyak karbon di atmosfer. Pasalnya, kotoran hewan ini melepaskan banyak nutrisi yang dibutuhkan plankton untuk menarik karbondioksida dari atmosfer lewat fotosintesis. Tahi Paus mengandung nitrogen, fosfor, dan zat besi ke laut.

Studi lain pada 2010 menunjukkan 12 ribu Paus Sperma di Laut Selatan menarik 200 ribu karbon dari atmosfer tiap tahun. Angka ini dihitung dari kotoran yang mereka keluarkan telah menstimuli pertumbuhan fitoplankton.

Sekar Mira, Peneliti Paus di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI membenarkan hal tersebut. Menurutnya hal ini diteliti oleh studi dari Lavery pada tahun 2010.

"Di estimasi bahwa populasi sperm whales (paus sperma) dari laut belahan bumi selatan yang kurang lebih sebanyak 12.000 ekor dapat berkontribusi menimbun karbon (carbon sink ) di lautan sebanyak 2x 100ribu tonsC/yrs," tulisnya saat dihubungi
Sehingga dengan fakta ini, menurutnya keragaman hayati patut dimasukkan dalam hitung-hitungan ganti rugi jejak karbon.

"Biodiversitas harus dimasukkan dalam setiap perhitungan carbon budgeting dan khususnya risk assessment dalam perhitungan cost and benefit dari aktivitas manusia," tandasnya.

Saat ini ada sekitar 1,3 juta paus di lautan Bumi. Jika jumlah mereka dikembalikan pada era sebelum perburuan paus, maka diperkirakan terdapat 4 dan 5 juta Paus di lautan.
"Fungsi Samudra Selatan untuk menyerap karbon di telah berkurang dengan makin paus sperma dalam skala besar selama perburuan paus industri.

Dengan jumlah ini, berarti Paus Besar dapat menangkap sekitar 1,7 miliar ton karbon dioksida setiap tahun. Total angka ini melebihi dari total emisi karbon tahunan Brasil, seperti dikutip dari National Geographic.

"Paus sperma sendiri kini terancam punah, dan mirisnya masih banyak diburu di beberapa lokasi di Indonesia," lanjut Mira.

Padahal, ia menyebut kalau seluruh mamalia laut saat ini sudah masuk ke dalam undang-undang satwa dilindungi. Namun ia menyayangkan penegakkan hukum belum berpihak kepada alam.

Padahal menurutnya setiap entitas biodiversitas yg ada di bumi saling terkait. Kadang manusia tidak sadar seberapa berharganya kepunahan seekor satwa dari alam. Padahal keberadaan mereka memberi kontribusi penting pada keseimbangan alam. Dalam hal ini, Paus ikut membantu mengurangi karbon di udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)