Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

 

Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari.

Dipantau dari laman Kitco, Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis.

Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas.

Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural.

“Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari Kitco News. 

Ia membeberkan, salah satu sentimen penting yang mendukung harga emas adalah terus terkikisnya kepercayaan terhadap dolar AS sebagai mata uang cadangan dominan dunia.

“Dengan semakin kuatnya pengaruh dolar sebagai senjata dan semakin berkurangnya pengaruh dolar terhadap PDB global, tren ini bisa bertahan untuk sementara waktu. Jika dolar AS terus kehilangan posisi sebagai mata uang cadangan, maka dolar akan melemah," Winmill menyoroti.

Winmill juga menyebut, tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat menjadi sentimen yang menguntungkan emas. Meskipun bank sentral terus berbicara keras tentang inflasi, ia ragu para pembuat kebijakan akan secara agresif memperketat kebijakan moneter hingga memicu resesi yang dalam.

“Langkah selanjutnya mungkin adalah penurunan suku bunga riil. Dan jika itu terjadi, aset berharga akan terlihat jauh lebih baik karena biaya peluangnya lebih rendah," jelasnya.

Namun, Winmill juga memperingatkan investor bahwa seiring dengan kenaikan harga emas, perusahaan-perusahaan yang lebih lemah akan membanjiri pasar dan mencoba memanfaatkan antusiasme investor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini