Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Rupiah Menguat ke Level Rp13.935 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.935 per dolar AS atau sebesar 0,04 persen pada perdagangan pasar spot, Kamis (27/2) pagi. Sebelumnya, posisi rupiah berada di Rp13.940 per dolar AS pada penutupan pasar, Rabu (26/2).

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Terpantau, ringgit Malaysia menguat 0,20 persen, peso Filipina 0,19 persen, dan dolar Taiwan 0,17 persen.

Selanjutnya, yen Jepang menguat 0,17 persen, won Korea 0,05 persen, diikuti dolar Singapura 0,04 persen, dan baht Thailand 0,03 persen. Di sisi lain, pelemahan hanya terjadi pada lira Turki sebesar 0,06 persen, sementara dolar Hong Kong di posisi stagnan terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar juga menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris dan euro menguat dengan nilai masing-masing 0,12 persen dan 0,17 persen, dolar Australia menguat 0,14 persen, dan dolar Kanada menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Kendati menguat, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai rupiah kemungkinan akan kembali melemah disebabkan oleh sentimen negatif dari kekhawatiran pasar atas menyebarnya wabah virus corona.

"Sentimen masih belum berubah, masih kekhawatiran meluasnya infeksi virus corona ke negara di luar China," kata Ariston saat dihubungi
Menurut Ariston, kekhawatiran tersebut ditunjukkan dengan pelemahan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level terendah sepanjang masa di kisaran 1,29 persen.

"Ini artinya banyak pelaku pasar membeli obligasi tersebut," tuturnya.
Sebelumnya, diketahui WHO telah memberikan peringatan kemungkinan wabah virus corona dapat berubah dari epidemi menjadi pandemi. Ariston menyebut peringatan itu meningkatkan kemungkinan masalah virus corona membesar, sehingga menambah kekhawatiran pasar.

Lebih lanjut, Ariston berpendapat rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.000 per dolar AS pada hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)