Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

CIA Pegang Rahasia Negara Lain lewat Perangkat Buatan Swiss


Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Jerman (BND) dilaporkan mengetahui dan memegang seluruh percakapan rahasia sejumlah pemerintahan negara di dunia melalui perangkat elektronik bersandi buatan perusahaan Swiss, Crypto International AG. Perusahaan itu memang khusus membuat perangkat komunikasi bersandi untuk para pelanggannya.

Dilansir AFP, Rabu (12/2), laporan tersebut dirilis oleh surat kabar The Washington Post, stasiun televisi Jerman ZTE dan kantor berita Swiss, SRF. Mereka menyatakan mengutip dari dokumen rahasia internal CIA yang menyatakan agen intelijen AS mengatur operasi tersebut dan diizinkan oleh para petinggi Crypto.
Menurut dokumen tersebut, Crypto AG menerima bayaran jutaan dolar dengan memberi akses bagi CIA dan BND untuk mengakses data klien mereka.


"Ini adalah kudeta intelijen abad ini," seperti yang tertulis di dalam dokumen tersebut.

Crypto AG adalah perusahaan yang memasok perangkat komunikasi bersandi kepada sekitar 120 negara sejak Perang Dunia II hingga hari ini. Produk mereka digunakan oleh Iran, India, Pakistan serta sejumlah pemerintah di Amerika Selatan.

Laporan ketiga media itu juga menyebut CIA diam-diam sebenarnya adalah pemilik rahasia perusahaan tersebut. Hal itu membuat CIA dan BND bekerja sama untuk membongkar kode dan membaca pesan sejumlah pemerintahan yang seharusnya merupakan informasi rahasia.
"Pemerintahan asing membayar AS dan Jerman Barat dengan baik untuk menyimpan percakapan rahasia mereka yang bisa dilihat oleh minimal dua (dan kemungkinan lima atau enam) negara lain," demikian isi dokumen tersebut.

Kesepakatan itu sudah lama dicurigai, tetapi sulit dibuktikan. Padahal, dokumen tersebut beredar sejak beberapa dasawarsa lalu.

Meski demikian, Rusia dan China yang dianggap pesaing oleh Blok Barat tidak pernah menggunakan perangkat buatan Crypto AG.

CIA belum memberikan komentar soal laporan tersebut. Namun, Crypto menyatakan sangat terganggu dengan pemberitaan itu.

"Sangat mengganggu. Kami tidak memiliki hubungan dengan CIA atau BND. Kami saat ini masih menilai situasi dan akan memberikan komentar setelah mendapat gambaran utuh," demikian pernyataan resmi Cyrpto.




Cyrpto yang bermarkas di Zug, Swiss, dilaporkan dipisah menjadi dua perusahaan dua tahun lalu. Satu perusahaan tetap mengurus klien dalam negeri, sedangkan lainnya merambah bisnis internasional yang diambil alih oleh pemodal asal Swedia, Andreas Linde.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini