Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

CIA Pegang Rahasia Negara Lain lewat Perangkat Buatan Swiss


Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Jerman (BND) dilaporkan mengetahui dan memegang seluruh percakapan rahasia sejumlah pemerintahan negara di dunia melalui perangkat elektronik bersandi buatan perusahaan Swiss, Crypto International AG. Perusahaan itu memang khusus membuat perangkat komunikasi bersandi untuk para pelanggannya.

Dilansir AFP, Rabu (12/2), laporan tersebut dirilis oleh surat kabar The Washington Post, stasiun televisi Jerman ZTE dan kantor berita Swiss, SRF. Mereka menyatakan mengutip dari dokumen rahasia internal CIA yang menyatakan agen intelijen AS mengatur operasi tersebut dan diizinkan oleh para petinggi Crypto.
Menurut dokumen tersebut, Crypto AG menerima bayaran jutaan dolar dengan memberi akses bagi CIA dan BND untuk mengakses data klien mereka.


"Ini adalah kudeta intelijen abad ini," seperti yang tertulis di dalam dokumen tersebut.

Crypto AG adalah perusahaan yang memasok perangkat komunikasi bersandi kepada sekitar 120 negara sejak Perang Dunia II hingga hari ini. Produk mereka digunakan oleh Iran, India, Pakistan serta sejumlah pemerintah di Amerika Selatan.

Laporan ketiga media itu juga menyebut CIA diam-diam sebenarnya adalah pemilik rahasia perusahaan tersebut. Hal itu membuat CIA dan BND bekerja sama untuk membongkar kode dan membaca pesan sejumlah pemerintahan yang seharusnya merupakan informasi rahasia.
"Pemerintahan asing membayar AS dan Jerman Barat dengan baik untuk menyimpan percakapan rahasia mereka yang bisa dilihat oleh minimal dua (dan kemungkinan lima atau enam) negara lain," demikian isi dokumen tersebut.

Kesepakatan itu sudah lama dicurigai, tetapi sulit dibuktikan. Padahal, dokumen tersebut beredar sejak beberapa dasawarsa lalu.

Meski demikian, Rusia dan China yang dianggap pesaing oleh Blok Barat tidak pernah menggunakan perangkat buatan Crypto AG.

CIA belum memberikan komentar soal laporan tersebut. Namun, Crypto menyatakan sangat terganggu dengan pemberitaan itu.

"Sangat mengganggu. Kami tidak memiliki hubungan dengan CIA atau BND. Kami saat ini masih menilai situasi dan akan memberikan komentar setelah mendapat gambaran utuh," demikian pernyataan resmi Cyrpto.




Cyrpto yang bermarkas di Zug, Swiss, dilaporkan dipisah menjadi dua perusahaan dua tahun lalu. Satu perusahaan tetap mengurus klien dalam negeri, sedangkan lainnya merambah bisnis internasional yang diambil alih oleh pemodal asal Swedia, Andreas Linde.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025