Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Ilmuwan Teliti Vaksin Virus Corona, Harga Minyak 'Bangkit'


Harga minyak mentah dunia akhirnya bangkit dari keterpurukan pada perdagangan Rabu (5/2). Sebuah laporan media menyebut para ilmuwan sedang mengembangkan vaksin Virus Corona ketika para ahli kesehatan dunia mengatakan pengobatannya belum ditemukan.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik US$1,32 atau 2,5 persen menjadi US$56,46 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik US$1,14 atau 2,3 persen ke level US$50,75 per barel.

Surat kabar China Changjiang Daily melaporkan bahwa tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Universitas Zhejiang Li Lanjuan, telah menemukan bahwa obat abidol dan darunavir dapat menghambat virus dalam percobaan sel in vitro.

Secara terpisah, Sky News melaporkan bahwa seorang ilmuwan Inggris telah membuat terobosan untuk mendapatkan vaksin. Ia mengurangi waktu pengembangan normal vaksin dari dua hingga tiga tahun menjadi hanya 14 hari.
Selain upaya pengembangan vaksin, kenaikan harga minyak ditopang kabar bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu produsennya sedang mempertimbangkan pemangkasan produksi. Hal ini untuk antisipasi turunnya permintaan minyak akibat virus yang berasal dari Wuhan, China itu.

Kilang minyak Sinopec China yang merupakan kilang terbesar Asia, telah memangkas laju produksi.

Kemunculan Virus Corona tak hanya menewaskan ratusan orang tetapi juga menekan pertumbuhan ekonomi China. Analis Capital Economics memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi hanya tiga persen pada kuartal pertama 2020.

"Dengan asumsi bahwa virus dikendalikan dengan relatif cepat, kami secara tentatif memperkirakan penurunan 10 persen dalam konsumsi minyak negara itu di kuartal pertama," tulisnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)