Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Sri Mulyani Proyeksi Ekonomi Dekati 1 Persen pada Kuartal II


Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 bakal lebih rendah ketimbang realisasi kuartal sebelumnya. Bahkan, ia menduga pertumbuhan ekonomi periode April-Juni akan mendekati satu persen.

Hal ini dikarenakan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang semakin meluas di sejumlah daerah.

"Kalau melihat dari sisi kuartal I 2020, kemungkinan kuartal II 2020 akan lebih berat. Kami melihat pertumbuhan ekonomi akan masuk dalam skenario yang lebih rendah dari skenario berat. Artinya, bisa lebih rendah dari 2,3 persen. Artinya, mendekati 1 persen," ujarnya dalam video conference, Rabu (3/6).


Pun demikian, Ani, sapaan akrabnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan minus atau negatif seperti yang terjadi di banyak negara akibat penyebaran virus corona.
Justru, ia optimistis program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang sedang dilakukan oleh pemerintah bisa mendongkrak roda perekonomian domestik. Ini memunculkan harapan ekonomi dalam negeri tidak akan anjlok.

"Kami berharap pemulihan ekonomi nasional dapat berpengaruh pada kuartal III dan kuartal IV 2020. Jadi, bisa mengejar kembali," terang Ani.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 hanya 2,97 persen. Realisasi ini jatuh dari tren laju ekonomi nasional yang di kisaran 5 persen.
Hal ini disebabkan daya beli masyarakat yang turun signifikan karena penyebaran virus corona memberikan dampak kepada hampir seluruh elemen masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp677,2 triliun untuk penanganan penyebaran virus corona di Indonesia. Sebagian besar dana atau sebesar Rp589,65 triliun akan digunakan untuk program pemulihan ekonomi nasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini