Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

BMKG Ungkap Faktor Gempa M 7,4 dan Tsunami Lokal di Meksiko


Gempa bumi bermagnitudo 7,4 mengguncang pantai selatan Meksiko pada Selasa (23/6) sekitar pukul 10.29 pagi waktu setempat. Gelombang tsunami setinggi 0,68 meter juga terjadi di Acapulco dan 0,71 meter di Salina Cru sesaat setelah gempa. Sedikitnya lima orang tewas dalam bencana tersebut.
Menurut analisa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) gempa disebabkan oleh deformasi batuan tepat di zona megathrust Oaxaca.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan Lempeng Cocos yang mendasari Samudra Pasifik dekat Meksiko secara perlahan mendorong Pantai Oaxaca ke arah timur laut dengan kecepatan 50 hingga 70 milimeter per tahun.

"Pergerakan ini menjadi terkunci ketika benturan Lempeng Amerika Utara yang terjadi di landasan daratan Oaxaca sehingga terjadilah akumulasi medan tegangan batuan tepat pada bidang kontak antar Lempeng Cocos dan Lempeng Amerika Utara," kata Daryono lewat keterangan resmi yang diterima
Rabu (24/6).
"Tadi malam, tekanan kulit Bumi di zona megathrust itu tampaknya sudah melampaui batas elastisitasnya hingga batuan tidak mampu lentur lagi sehingga patah dengan tiba-tiba selanjutnya memancarkan energi gelombang seismik," sambungnya.
Lebih lanjut kata Daryono, sebagian tepi batas Lempeng Amerika utara tersentak secara tiba-tiba dalam arah yang berlawanan dengan arah penunjaman lempeng. Gempa ini juga mengirim sentakan guncangan ke wilayah lain yang menyebabkan bangunan sejauh ratusan kilometer dari pusat gempa.
Meksiko menurut BMKG memang merupakan wilayah rawan gempa sebab banyak peristiwa gempa kuat yang tercatat pernah  melanda salah satu negara di Amerika Latin ini.
BMKG pun menilai gempa bumi yang melanda Meksiko dapat diambil sebagai evaluasi atau pelajaran bahwa gempa besar akan mengalami perulangan atau periode ulang sehingga daerah yang pernah mengalami gempa besar di masa lalu dapat kembali dilanda gempa kuat di masa yang akan datang.
"Sehingga wilayah Indonesia yang memiliki catatan sejarah gempa kuat pada masa lalu maka wajib hukumnya membangun bangunan tahan gempa serta mengedukasi warganya bagaimana cara selamat saat terjadi gempa. Ini penting sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi kejadian gempa berikutnya," jelas Daryono.
Pelajaran kedua ialah gempa kuat sangat berpotensi terjadi di kawasan seismic gap. Zona seismic gap adalah zona sumber gempa aktif akan tetapi sudah lama tidak terjadi gempa dahsyat.
Seismic gap kata Daryono ibarat bom waktu. Artinya gempa yang suatu waktu akan meledak dengan melepas energi gempa yang sangat besar.
"Jika kita mencermati ukuran sejarah gempa besar di Meksiko yang terjadi di sepanjang Subduksi Cocos, tampak bahwa gempa Oaxaca terjadi di kawasan yang selama ini 'kosong' dari gempa besar," tuturnya.
"Untuk itu kita perlu mengidentifikasi zona megathrust dan sesar aktif di Indonesia yang selama ini segmennya belum mengalami gempa kuat untuk diwaspadai," sambung Daryono.
Terakhir, berdasarkan analisa BMKG dari tayangan video dan foto akibat guncangan gempa, tak sedikit gedung bertingkat yang mengalami guncangan cukup besar tetapi tidak mengalami kerusakan parah atau roboh.
Menurut Daryono, Meksiko telah lama menyiapkan struktur bangunan tahan gempa tidak seperti saat gempa di Yogyakarta tahun 2006.
"Di Yogyakarta saat itu masih banyak bangunan yang di bawah standar aman gempa. Pelajaran terpenting yang dapat kita ambil sebagai pelajaran bahwa bangunan tahan gempa adalah kunci keselamatan yang paling utama dalam menghadapi gempa sehingga cepat atau lambat harus kita merealisasikannya," pungkas Daryono.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025