Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pertamina Janji Tak Langsung Naikkan BBM walau Minyak Naik


Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati berjanji perusahaannya tidak akan langsung mengerek harga jual BBM kalau harga minyak dunia naik.  Hal tersebut ia sampaikan untuk membantah tudingan sejumlah pihak bahwa perusahaannya tak adil dalam penyesuaian harga BBM.

Nicke menyebut ada pihak yang menyebut Pertamina tak adil. Ketika harga minyak dunia, Pertamina dituduh sigap dengan langsung menaikkan harga minyak.

Tapi ketika minyak dunia turun, Pertamina tak langsung menurunkan harga jual BBM .


"Tidak betul juga statement itu. Saya ada di Pertamina ketika harga minyak naik, 3 bulan kami tunggu. Tidak serta merta naik. Kami lihat betul karena formula harga kita itu kan melihatnya 3 bulan ke belakang," ucap Nicke dalam diskusi virtual, Senin (15/6).

Nicke juga menuturkan bahwa Pertamina menaikkan harga jual karena harus tetap mempertahankan operasional kilang minyak dalam negeri dan menjaga keberlangsungan industri hulu migas.
Pasalnya, hal tersebut sudah menjadi amanat negara kepada Pertamina. Jika hanya mencari untung, Pertamina bisa saja menutup seluruh kegiatan eksplorasi hulu dan kilang minyak dan mengimpor minyak mentah saat harga sedang jatuh.

"Faktanya hari ini memang kami menghasilkan produk hulu migas di seluruh operator lebih mahal dibanding yang dihasilkan oleh Amerika. Karena Amerika over supply," terangnya.

Nicke mengakui bahwa harga produksi BBM memang lebih mahal ketimbang impor namun menurutnya hal itu juga diperlukan untuk kemandirian energi ke depan.

"Kita harus melihat jangka panjang tentang ketahanan dan kemandirian energi. Bayangkan kalau kita hanya mengandalkan impor, karena di luar negeri murah. Oke kita andalkan impor nggak usah bikin sendiri, kalau negara itu lock down, tidak mengirimkan BBM-nya, apa yang terjadi?" kata Nicke.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini