Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

BPS Sebut Sensus Penduduk Online Hanya Diikuti 51 Juta Orang


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah masyarakat yang mengikuti sensus penduduk online sebanyak 51,36 juta jiwa. Angka itu berdasarkan perhitungan hingga penutupan masa perhitungan sensus penduduk online pada 30 Mei 2020.

"Hingga 30 Mei 2020 jumlah yang mengikuti 31,36 juta jiwa. Dengan mempertimbangkan ini adalah sensus online di Indonesia yang pertama kali, hasil ini membuktikan bahwa kepedulian masyarakat sangat luar biasa," ungkap Kepala BPS Suhariyanto, Selasa (2/6).

Ia menyatakan total penduduk Indonesia yang tercatat di Indonesia saat ini sebanyak 270 juta orang. Ini artinya, total masyarakat yang mengikuti sensus penduduk online setara dengan 19 persen dari total masyarakat.


"Untuk itu apa yang akan kami kerjakan setelah sensus penduduk online itu kami akan mengolah hasilnya dan membuat daftar penduduk yang akan kami buat satu per satuan lingkungan setempat dari hasil penduduk nanti," jelas dia.
Selanjutnya, Suhariyanto menjelaskan pihaknya akan melakukan sensus penduduk secara offline pada September 2020. Nantinya, BPS akan merekrut 247 ribu orang untuk melakukan sensus penduduk tersebut.

"Nanti petugas sensus akan ditemani oleh ketua RT berkeliling rumah tangga untuk membagikan kuisioner secara offline," terang Suhariyanto.

Dengan demikian, tak ada proses wawancara yang akan dilakukan oleh petugas BPS dengan masyarakat selama melakukan proses sensus penduduk. Masyarakat hanya diminta untuk mengisi kuisioner yang nantinya akan langsung diambil oleh petugas sensus.

"Sehingga penduduk yang belum melalukan sensus online kami harapkan betul-betul pada September 2020 nanti bersama-sama mencatat atau mengisi kuisioner," katanya.



Ia menambahkan BPS pada awalnya berencana merekrut petugas baru hingga 400 ribu orang. Namun, karena anggaran BPS dipangkas hingga 43 persen di tengah pandemi virus corona, maka jumlah petugas yang akan direkrut berkurang menjadi hanya 247 ribu orang.

"Kemudian karena ada efisiensi pelatihannya nanti tidak dilakukan tatap muka, tapi video conference sekaligus untuk menerapkan protokol kesehatan. Dengan ada virus corona kami harus betul-betul ubah," pungkas Suhariyanto.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini