Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Juara di Dunia, Ponsel Huawei di RI Berbanding Terbalik


Perusahaan raksasa teknologi dunia yaitu Huawei Techologies mengukuhkan diri sebagai vendor ponsel nomor satu di dunia berdasarkan data pengapalan global yang dikeluarkan oleh perusahaan riset Counterpoint Research untuk April 2020.

Berdasarkan data tersebut, Huawei menyumbangkan 21,4 persen pengiriman smartphone global dan di posisi kedua ditempati Samsung Electronics yang hanya menyumbang 19,1 persen dari total pasar ponsel sebesar 69,37 juta unit pada April 2020, atau turun 41 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Pencapaian Huawei itu berkat aksi solidaritas warga China atas pembatasan AS itu. Penjualan Huawei di kampung halaman terus tumbuh dalam beberapa kuartal belakangan.
Sementara itu, pengapalan Huawei berbanding terbalik buat pasar Huawei di Indonesia. Perusahaan yang digawangi Ren Zhengfei ini tidak masuk ke dalam lima besar vendor ponsel di Tanah Air menurut data pengapalan IDC sepanjang kuartal pertama 2020.

Berdasarkan data IDC, untuk pertama kalinya Vivo bertengger di urutan puncak pada periode itu. Keberhasilan vendor ponsel China ini disebabkan oleh perusahaan yang cenderung fokus pada kegiatan pemasaran dan berbagai kegiatan promosi untuk lini ponsel kelas low-end dan midrange.

Lalu di posisi kedua ada Oppo, tahun ini perusahaan tengah gencar meluncurkan perangkat seri A mereka yang dianggap IDC sebagai penggerak volume pengiriman unit ponsel.
Selanjutnya ada Samsung, vendor ponsel asal Korea Selatan ini tetap menjadi merek ternama di Indonesia tetapi IDC mencatat ada pengiriman produk yang berkurang karena ada gangguan pada pasokan.

Sementara Xiaomi menurut IDC terus mengembangkan fanbase yang kuat dan memiliki beragam model ponsel yang terjangkau.

Sedangkan Data IDC Indonesia menunjukkan bahwa pengiriman smartphone pada kuartal pertama 2020 turun 7,3 persen secara year-on-year (dari tahun ke tahun/YoY) dan 24,1 persen secara quarter over quarter (dari kuartal ke kuartal/QoQ).

Sementara sampai dengan kuartal pertama ini, ada 7,5 juta unit ponsel yang dikirim ke Indonesia.

Berkaca pada di atas, menurut Tracker Ponsel Triwulan IDC, angka tersebut menunjukkan rekor terendah baru dalam dua tahun terakhir yang disebabkan oleh pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025