Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Dihantui Virus Corona, Rupiah Dekati Rp15 Ribu per Dolar AS


Nilai tukar rupiah berada di Rp14.956 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (16/3) sore. Mata uang Garuda melemah 1,21 persen dibandingkan nilai pada penutupan perdagangan pada Jumat (13/3).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.818 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat (13/3) kemarin, yakni Rp14.815 per dolar AS.

Rupiah tidak sendirian, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat, baht Thailand melemah 1,14 persen, ringgit Malaysia 0,70 persen dan peso Filipina 0,60 persen.

Selanjutnya, lira Turki juga turut melemah 0,55 persen, won Korea 0,53 persen, rupee India 0,48 persen serta dolar Singapura 0,45 persen. Diikuti dolar Taiwan 0,12 persen.
Di sisi lain, penguatan terjadi pada yen Jepang sebesar 1,38 persen, yuan China 0,14 persen, dan dolar Hong Kong 0,09 persen terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing melemah sebesar 0,01 persen dan 0,62 persen, sementara poundsterling Inggris dan euro menguat sebesar 0,65 persen dan 0,94 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah hari ini masih disebabkan oleh sentimen perkembangan virus corona (covid-19).

"Situasi virus corona semakin parah saat Presiden AS Donald Trump menyatakan darurat nasional, karena negara mencatat lebih dari 2.000 kasus dan 50 kematian," jelas Ibrahim saat dihubungi
Hal tersebut juga dibuktikan dari keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang menetapkan covid-19 sebagai pandemi beberapa waktu lalu.

Di sisi domestik, rilis Badan Pusat Statistik (BPS)terkait Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Februari 2020 yang mengalami surplus sebesar US$2,34 miliar dengan angka ekspor mencapai US$13,94 miliar dan Impor US$11,60 miliar tidak berpengaruh signifikan terhadap penguatan rupiah.

"Pasar kurang merespons surplus neraca perdagangan karena saat ini pemerintah sedang fokus penanganan virus corona yang sudah merebak di seluruh negeri sehingga perlu penanganan yang serius dari pemerintah," imbuh dia.

Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp14.940 hingga Rp15.000 pada perdagangan Selasa (17/3) esok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini