Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Rupiah
diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada
perdagangan awal pekan ini. Presiden Komisaris HFX International Berjangka
Sutopo Widodo mengatakan pada awal pekan ini pasar masih akan merespons gema
dari keputusan FOMC (Federal Reserve) yang baru saja dirilis. Mengingat sinyal
hawkish dari The Fed—di mana sekitar separuh anggota FOMC mengantisipasi
kenaikan suku bunga di tahun 2026—tekanan terhadap mata uang emerging markets,
termasuk rupiah, akan tetap terasa. Namun, BI diperkirakan akan tetap berada di
pasar untuk menjaga stabilitas agar pergerakan tidak terlalu liar. Baca Juga:
Dividen Rp950 per Saham, 14 Saham Masuk Cum Dividen Hari ini, Cek Daftarnya
& Yield! “Secara teknikal dan fundamental, rupiah kemungkinan besar masih
akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung fluktuatif, diperkirakan
berada di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS,” ujar Sutopo kepada
Kontan, Jumat (19/6/2026). Sutopo melihat ada tiga poin krusial yang akan
menjadi penggerak pasar, termasuk rupiah pada hari Senin ini. Antara lain
dampak lanjutan Kebijakan The Fed. Pasar akan terus mencerna prospek kebijakan
moneter AS ke depan. Sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi di
tahun 2026 memperkuat posisi dolar AS (DXY). Setiap penguatan dolar global akan
otomatis menekan rupiah, sehingga investor akan sangat sensitif terhadap
pernyataan pejabat The Fed lainnya atau data ekonomi AS yang muncul awal pekan.
Lalu, respons pasar terhadap kebijakan devisa baru. Efektif per 1 Juli 2026, BI
memperketat aturan devisa (threshold dokumen ekspor dan limit cash valas).
Meski berlaku bulan depan, Sutopo menilai pelaku pasar biasanya mulai
memposisikan diri lebih awal. Sentimen ini bersifat double-edged: di satu sisi,
ini adalah upaya BI untuk memperkuat cadangan devisa (sentimen positif), namun
di sisi lain, pengetatan likuiditas valas sering kali membuat pelaku pasar
lebih berhati-hati dalam jangka pendek. Selanjutnya, ketidakpastian geopolitik
dan MSCI Review. Meski sudah ada interim peace agreement antara AS dan Iran,
pasar akan memantau apakah ada perkembangan baru terkait stabilitas di Timur
Tengah yang dapat mempengaruhi harga energi global. Selain itu, sentimen
terkait status Emerging Market Indonesia pasca-review MSCI tetap membayangi;
setiap aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing akibat
sentimen ini akan memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar. Baca Juga: Dua
Putra Makmur (DPUM) Fokus Pemulihan Pasca Kebakaran, Ekspor Mulai Juli 2026
Sutopo memperkirakan rupiah pada Senin (22/6) berada di kisaran Rp 17.800
hingga Rp 17.950 per dolar AS. Sementara itu, Muhammad Amru Syifa, Research and
Development ICDX memproyeksi nilai tukar rupiah pada awal pekan ini akan
bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp 17.700
– Rp 17.860 per dolar AS. Meski Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar
25 basis poin menjadi 5,75%, rupiah masih ditutup melemah ke level Rp 17.804
per dolar AS. “Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi
faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah,” ucap Amru. Di sisi lain,
kenaikan BI-Rate diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar, meningkatkan
daya tarik aset keuangan domestik, serta membantu meredam tekanan pelemahan
rupiah. Sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar total
100 basis poin sebagai langkah memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya
ketidakpastian global. Dari sisi eksternal, dolar AS masih bertahan kuat
setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya dan memberikan
sinyal bahwa suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama. Selain itu, imbal
hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi turut
menopang permintaan terhadap aset berbasis dolar AS. “Kondisi tersebut
membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” kata
Amru. Pada perdagangan Senin nanti, Amru mengatakan bahwa pasar juga akan
mencermati perkembangan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran
yang bertujuan memulihkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. “Dengan
demikian, perkembangan hubungan AS–Iran, pergerakan harga minyak dunia,
kekuatan dolar AS, yield obligasi AS, serta sentimen terkait MSCI akan menjadi
faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada awal pekan ini,” jelas
Amru. Asal tahu saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)
kembali melemah pada Jumat (19/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar
spot melemah 0,06% secara harian ke Rp 17.804 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor
Bank Indonesia (BI), rupiah di level Rp 17.826 per dolar AS, nilai ini sama dengan
nilai pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya (18/6).
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar