Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Teknik Baru BPPT Tangkal Hujan di Jabodetabek


Untuk mengantisipasi curah hujan tinggi khusus di kawasan Jabodetabek, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan teknik baru menggunakan bahan penyemaian flare.

Menurut Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC), teknik bahan semai flare ini akan dipusatkan di posko TMC di Bandara Budiarto Curug, Tangerang.

Menurut Kepala BBTMC-BPPT Tri Handoko, flare ini nantinya akan ditembakkan dari pesawat Piper Cheyenne (PK-TMC) milik BBTMC-BPPT. Tabung flare yang dibawa pesawat ini akan diisi garam. Flare itu lantas akan ditembakkan ke awan yang berpontensi menghasilkan curah hujan cukup tinggi.

"Kami membuka posko kedua dan sejak kemarin tim TMC Posko Curug sudah melakukan operasi perdana dengan penyemaian teknik flare. Dengan menggunakan flare pada operasi penyemaian awan, akan diperoleh efisiensi operasional yang lebih optimal," kata Tri seperti tertulis pada siaran pers yang
Kelapa Sub Bagian Hubungan Media dan Pengaduan Masyarakat, Bagian Humas BPPT, Surya Pratama menyebut teknik ini baru digunakan untuk modifikasi cuaca di kawasan Jabodetabek. Namun, sebelumnya teknik ini pernah diterapkan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.

Sementara itu Kepala Bidang Penerapan TMC Budi Harsoyo mengatakan TMC akan menggunakan dua jenis flare, yaitu Hygroscopics Flare dan AgI Flare BIP.

Teknik penyemaian dengan Hygroscopics Flare disematkan kandungan CaCl2. Bahan ini digunakan untuk menyemaikan awan yang baru tumbuh di wilayah Jabodetabek. Awan yang akan disasar terutama yang berada di kawasan downwind (turbin angin) seperti Depok, Bogor, dan sekitarnya.




Penyemaian akan dilakukan dengan membakar flare sebanyak-banyaknya di dasar awan dengan ketinggian sekitar 3.000-4.000 kaki. Hal ini dilakukan untuk mengganggu pertumbuhan awan.

Sementara penyemaian dengan AgI Flare BIP bertujuan untuk menyemai awan-awan yang berada di ketinggian lebih dari 20 ribu kaki atau sekitar 18,2 kilometer. Awan yang akan disasar adalah awan cumulonimbus dengan suhu puncak awan ada di kisaran enam derajat Celcius.

"Kandungan bahan semai AgI Flare BIP ini adalah perak iodide. Di luar negeri sering dipakai untuk tujuan mengurangi hujan es," kata Budi.
"Dengan kemampuan pesawat Piper Cheyenne yang dipakai saat ini, penyemaian dilakukan pada ketinggian minimal 10 ribu kaki di daerah updraft awan target. Semakin tinggi penyemaian, semakin baik," lanjut dia.

TMC menyebut pihaknya telah melakukan dua kali penyemaian pukul 11:00 WIB kemarin (26/2) mengangkut lima buah Hygros Flare dengan target penyemaian di barat laut Jabodebatek, yaitu di Kepulauan Seribu.

Sementara penerbangan kedua dilakukan pukul 15:35 WIB dengan mengangkut empat buah AgI Flare
dengan target penyemaian di barat daya Jabodetabek dan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini