Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Sri Mulyani Ungkap 'Tungkai Lemah' Buat Ekonomi RI Susah Lari


Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian Indonesia memiliki "tungkai lemah" (achilles heels) berupa defisit transaksi berjalan (CAD/Current Account Deficit). Kelemahan itu menjadi penyebab Indonesia kesulitan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi lebih besar dari tahun ke tahun walaupun sudah masuk kelompok negara G20.

"Indonesia masuk G20, size (ukuran) ekonomi termasuk besar, pertumbuhan relatif tinggi. Namun, Indonesia setiap kali mau lari lebih kencang, selalu ada yang mengerem. Kalau bahasa inggrisnya achilles heels, kira-kira tungkainya itu lemah jadi (kalau) lari kencang tungkainya lemas," katanya di Hotel Borobudur, Kamis (5/3).

Sri Mulyani mengungkapkan setiap kali pemerintah berencana untuk menggenjot perekonomian, nilai ekspor kerap kewalahan mengimbangi nilai impor. Ujung-ujungnya defisit negara perdagangan, yang merupakan kontributor transaksi berjalan, kian melebar.

"Kalau CAD makin lebar dan Indonesia enggak mampu menarik capital (modal), maka nilai tukar mata uang tertekan, itulah kenapa terjadi achilles heels. (Kalau) lari cepat, langsung ada indikator yang kepanasan sehingga (pertumbuhan ekonomi) enggak bisa sustain (bertahan)," jelasnya.
Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu kemudian mengingatkan soal nilai ekspor Indonesia yang memiliki pertumbuhan negatif dalam empat kuartal berturut-turut pada  2019. Kala itu, impor juga terkontraksi tinggi, terutama bahan baku. Artinya, perusahaan berhati-hati dalam melakukan ekspansi produksi di tanah air.

Secara nilai, defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar US$30,4 miliar tahun lalu tak beda jauh dengan angka defisit transaksi berjalan pada 2018, US$30,6 miliar.

Namun, Sri Mulyani mengingatkan secara kualitas komponen, ekspor dan impor pada 2019 memiliki nilai lebih rendah dari 2018.

Tahun lalu, nilai ekspor tercatat US$168,5 miliar atau turun 6,7 persen dibandingkan 2018, US$180,7 miliar. Sementara, impor jatuh lebih dari US$181 miliar pada 2018 menjadi US$164,9 miliar pada 2019.




"Sehingga dihitung GDP (Pendapatan Domestik Bruto), ekspor minus impor (memang) kelihatan positif. Kalau dari growth (pertumbuhan) bagus, tapi komponen enggak bagus," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia optimistis perekonomian Indonesia berpotensi dapat tumbuh 6 hingga 7 persen apabila dapat memperbaiki masalah ekspor dan impor tersebut.

"Indonesia sebagai negara besar, harusnya Indonesia bisa tumbuh 6-7 persen. Namun, bisa tumbuh 6-7 persen kalau bisa perbaiki masalah fundamental ini," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini