Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Sri Mulyani Ungkap 'Tungkai Lemah' Buat Ekonomi RI Susah Lari


Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian Indonesia memiliki "tungkai lemah" (achilles heels) berupa defisit transaksi berjalan (CAD/Current Account Deficit). Kelemahan itu menjadi penyebab Indonesia kesulitan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi lebih besar dari tahun ke tahun walaupun sudah masuk kelompok negara G20.

"Indonesia masuk G20, size (ukuran) ekonomi termasuk besar, pertumbuhan relatif tinggi. Namun, Indonesia setiap kali mau lari lebih kencang, selalu ada yang mengerem. Kalau bahasa inggrisnya achilles heels, kira-kira tungkainya itu lemah jadi (kalau) lari kencang tungkainya lemas," katanya di Hotel Borobudur, Kamis (5/3).

Sri Mulyani mengungkapkan setiap kali pemerintah berencana untuk menggenjot perekonomian, nilai ekspor kerap kewalahan mengimbangi nilai impor. Ujung-ujungnya defisit negara perdagangan, yang merupakan kontributor transaksi berjalan, kian melebar.

"Kalau CAD makin lebar dan Indonesia enggak mampu menarik capital (modal), maka nilai tukar mata uang tertekan, itulah kenapa terjadi achilles heels. (Kalau) lari cepat, langsung ada indikator yang kepanasan sehingga (pertumbuhan ekonomi) enggak bisa sustain (bertahan)," jelasnya.
Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu kemudian mengingatkan soal nilai ekspor Indonesia yang memiliki pertumbuhan negatif dalam empat kuartal berturut-turut pada  2019. Kala itu, impor juga terkontraksi tinggi, terutama bahan baku. Artinya, perusahaan berhati-hati dalam melakukan ekspansi produksi di tanah air.

Secara nilai, defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar US$30,4 miliar tahun lalu tak beda jauh dengan angka defisit transaksi berjalan pada 2018, US$30,6 miliar.

Namun, Sri Mulyani mengingatkan secara kualitas komponen, ekspor dan impor pada 2019 memiliki nilai lebih rendah dari 2018.

Tahun lalu, nilai ekspor tercatat US$168,5 miliar atau turun 6,7 persen dibandingkan 2018, US$180,7 miliar. Sementara, impor jatuh lebih dari US$181 miliar pada 2018 menjadi US$164,9 miliar pada 2019.




"Sehingga dihitung GDP (Pendapatan Domestik Bruto), ekspor minus impor (memang) kelihatan positif. Kalau dari growth (pertumbuhan) bagus, tapi komponen enggak bagus," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia optimistis perekonomian Indonesia berpotensi dapat tumbuh 6 hingga 7 persen apabila dapat memperbaiki masalah ekspor dan impor tersebut.

"Indonesia sebagai negara besar, harusnya Indonesia bisa tumbuh 6-7 persen. Namun, bisa tumbuh 6-7 persen kalau bisa perbaiki masalah fundamental ini," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)