Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Karyawan Dirumahkan Gara-gara Corona, Youtube Andalkan AI


Youtube lebih mengandalkan kecerdasan buatan (AI) machine learning daripada manusia untuk menyaring konten-konten di platform di tengah wabah virus corona (SARS-CoV-2).

Biasanya algoritme dari AI akan mendeteksi konten ilegal dan akan mengirimkan kepada manusia untuk melakukan penilaian. Namun sistem ini harus berubah karena YouTube mengurangi jumlah pegawai datang ke kantor.

"Kami sementara akan mulai lebih mengandalkan teknologi untuk membantu beberapa pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pengulas. Ini berarti sistem otomatis akan mulai menghapus beberapa konten tanpa ulasan manusia," kataYoutube dikutip dari blog resminya.

Youtube akan memungkinkan sistem secara otomatis menghapus beberapa konten tanpa ulasan manusia. Platform mengaku sistem baru ini akan menyebabkan peningkatan penghapusan video meski video tersebut tidak melanggar aturan platform.

Youtube juga tak akan memberi teguran pada konten, kecuali apabila konten tersebut gamblang melanggar aturan. Pembuat konten juga masih bisa mengajukan banding terhadap penghapusan konten.

Dilansir dari blog Youtube, pengajuan banding ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama atau tertunda sebagai imbas minimnya pekerja yang datang ke kantor.

"Tindakan pencegahan tenaga kerja kami juga akan menghasilkan tinjauan banding yang tertunda," kata Youtube.
Youtube juga mengatakan akan lebih berhati-hati tentang konten apa yang dipromosikan termasuk streaming. Kebijakan penggunaan mesin AI ini juga bisa berubah dengan cepat seiring dengan perkembangan wabah corona.

Platform awalnya melakukan demonetisasi seluruh video yang membahas virus corona. Akan tetapi, Youtube akhirnya setuju mengaktifkan iklan pada sejumlah kanal YouTube yang membahas virus corona.

Di sisi lain, pemerintah Inggris kini telah meminta influencer untuk membantu memerangi hoaks dan misinformasi virus corona.

"Kami akan terus menegakkan kebijakan kami mengenai konten virus corona, termasuk menghapus video yang membuat orang tak mencari perawatan medis atau mengklaim zat berbahaya memiliki manfaat kesehatan," kata Youtube.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025