Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Serangan Taliban Tewaskan 9 Tentara Afganistan


Sebanyak sembilan orang polisi Afganistan menjadi korban saat gerilyawan Taliban menyerang sebuah pos pemeriksaan, Sabtu (30/3). Serangan itu kemudian berlanjut ke kota Ghazni, Afganistan Timur.

Juru bicara polisi Ghazni, Ahmad Khan Seerat mengatakan kepada AFP, keributan itu dimulai pada Jumat pagi. Secara mendadak, Taliban melancarkan serangan ke dua pos pemeriksaan yang lokasinya berdekatan. Taliban disebut menyergap sekelompok polisi yang sedang bergegas ke tempat kejadian, menewaskan seorang kepala polisi.

Seerat menyebutkan, secara keseluruhan, sembilan petugas meninggal dunia dan enam lainnya cedera.


Jumlah korban itu juga telah dikonfirmasi oleh juru bicara Gubernur Ghazni, Arif Noori.
Pada Agustus lalu, para pejuang Taliban tak membutuhkan waktu lama untuk menguasai kota Ghazni, sebelum mereka terdorong keluar oleh serangan udara AS dan pasukan Afganistan. Situasi belum membaik sejak saat itu, Taliban masih terus-menerus berusaha.

Serangan hari Jumat tersebut membuat pemerintahan menyoroti rapuhnya keamanan Afganistan dan resiko yang dihadapi oleh pasukan keamanan lokal karena posisi mereka yang amat rentan.

Melalui akun Twitter, pihak Taliban mengklaim telah membunuh 12 'tentara', namun kelompok tersebut diketahui kerap melebih-lebihkan dari jumlah asli. Sementara, di Afganistan Selatan, tepatnya di Zabul, juru bicara Gubernur setempat mengungkapkan bahwa empat orang polisi tewas dan dua lainnya cedera akibat tembakan yang dilepas seorang 'penyusup Taliban' di sebuah pos pemeriksaan.

Serangan itu terjadi ketika AS tengah berusaha untuk menengahi perjanjian damai dengan Taliban dan pemerintah Kabul, lebih dari 17 tahun sejak invasi AS yang bertujuan menggulingkan para pejuang Islam.

Pada Januari lalu, Presiden Ashraf Ghani mengungkapkan sebanyak 45 ribu personel keamanan telah terbunuh sejak dirinya menjabat pada September 2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025