Menteri Ara dan Nusron Sepakat Sertifikasi Gratis untuk Rumah MBR

  Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) bersama dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sepakat menetapkan sertifikasi sektor perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) secara gratis. Hal tersebut diungkapkan dalam pertemuan Menteri PKP Maruarar Sirait dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Ruang Rapat Menteri ATR/BPN, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Ara juga mengapresiasi terobosan Kementerian ATR/BPN dalam menghadirkan program sertifikasi gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Terobosan kolaborasi yang juga luar biasa dengan Pak Nusron adalah sertipikasi gratis bagi MBR. Itu merupakan karya dan dukungan yang luar biasa dari Menteri ATR/BPN bagi rakyat kecil," ujar dia dikutip dari keterangan resmi. Menteri Ara menuturkan, sinergi tersebut akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat karena tidak hanya memberikan kepastian...

Merger Bikin BTPN Masuk 10 Bank Beraset Kakap


PT Bank BTPN Tbk masuk menjadi satu dari 10 bank dengan aset tergemuk di Indonesia. Aset perusahaan melompat 101 persen pada kuartal pertama tahun ini, yaitu dari Rp95,8 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi sebesar Rp192,2 triliun.

Sebelumnya, perusahaan hanya berada di peringkat 16. "Kenaikan peringkat setelah BTPN melakukan penggabungan usaha (merger) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI)," imbuh Direktur Utama Bank BTPN Ongki Wanadjati Dana, Kamis (25/4).

Secara resmi, ia melanjutkan BTPN efektif merger dengan SMBCI pada 1 Februari 2019. Sehingga, pencatatan aset kedua perusahaan digabung.

Walhasil, tak cuma aset yang melompat. Pertumbuhan kreditnya pun melonjak 114 persen menjadi Rp139,8 triliun. Peningkatan penyaluran kredit tersebut disumbang oleh kredit korporasi yang menjadi bisnis inti SMBCI.
Kredit korporasi perusahaan tercatat sebesar Rp71,9 triliun. Segmen kredit ini merupakan portofolio baru yang dicatat perusahaan hasil merger dengan SMBCI.

"Sebelum merger, bisnis ini (korporasi) dikelola oleh SMBCI. Setelah merger, portofolio ini dicatat ke dalam neraca Bank BTPN. Namun, apabila dibandingkan dengan posisi tahun lalu, kredit korporasi tumbuh 12 persen," kata Ongki.

Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


Selain korporasi,perusahaan juga mencatat penyaluran kredit Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebesar Rp13,5 triliun atau naik 13 persen. Kemudian, kredit productive poor Rp7,5 triliun atau tumbuh 20 persen, termasuk kredit konsumen Rp6,1 triliun yang tumbuh 106 persen.
Laba Tertekan

Kendati kinerja kreditnya mengilap, namun perolehan laba perusahaan cukup tertekan. Per kuartal I 2019, laba bersih perusahaan tercatat Rp507 miliar atau turun 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tanpa memperhitungkan pajak, sebetulnya laba perusahaan sebesar Rp801 miliar, nyaris stagnan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
CFO Bank BTPN Hanna Tantani menuturkan bunga acuan merangkak naik di sepanjang tahun lalu. Akibatnya, biaya dana menjadi mahal.

"Hal ini terutama disebabkan oleh tingginya biaya dana (cost of fund), sedangkan kapasitas untuk mengompensasi peningkatan biaya dana ke para debitur terbatas," tandasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini