Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

NASA Sebut Bahan Tambang di Bulan Melimpah


Tim ilmuwan NASA menyatakan logam tambang di permukaan Bulan lebih melimpah dari yang diperkirakan sebelumnya.
Hal ini merupakan temuan para peneliti setelah mereka mendeteksi permukaan Bulan. Instrumen Mini-RF di pengorbit NASA menemukan bahwa semakin besar kawah yang ada di Bulan, semakin besar kemungkinan material tambang yang terkandung di dalamnya.
Hal ini terdeteksi dari transmisi medan listrik atau yang dikenal sebagai "konstanta dielektrik." Para ilmuwan menemukan hubungan langsung antara konstanta itu dan konsentrasi mineral logam.
Diperkirakan konstanta ini terkait dengan kandungan besi dan titanium oksida. Konstanta itu tidak berubah untuk kawah dengan lebar antara tiga dan 12 mil.
Alat Miniature Radio Frequency (Mini-RF) yang mendeteksi permukaan Bulan ini dilekatkan pada pesawat ruang angkasa Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) NASA.
Dalam penelitian yang diterbitkan di Earth and Planetary Science Letters, para ilmuwan berkata meteor mengeluarkan logam dari dalam saat mereka menghantam permukaan bulan, membentuk kawah dalam proses tersebut. Itu berarti akan ada logam dalam jumlah sangat besar yang tersimpan dalam Bulan.
Faktanya juga, semakin rendah kita menggali maka semakin banyak besi dan titanium oksida yang kita temukan.
"Bayangkan mengambil tumpukan logam lima kali lebih besar dari Pulau Besar Hawaii dan menguburnya di bawah tanah," kata Peter B. James, penulis makalah itu.
Dalam laman resmi NASA, para peneliti menggunakan Mini-RF dalam mengukur sifat listrik di dalam tanah bulan yang menumpuk di dasar kawah di belahan utara Bulan.
Sifat listrik itu dikenal sebagai konstanta dielektrik, angka yang membandingkan kemampuan relatif suatu material dan kekosongan ruang untuk mentransmisikan medan listrik, dan dapat membantu menemukan es yang bersembunyi di bayang-bayang kawah.
Untuk kawah yang lebarnya sekitar 1 hingga 3 mil (2 hingga 5 kilometer), konstanta dielektrik material terus meningkat ketika kawah tumbuh lebih besar. Namun, untuk kawah dengan lebar 3 hingga 12 mil (5 hingga 20 kilometer), sifatnya tetap konstan.
Perbandingan gambar Mini-RF dengan peta oksida logam dari LRO Wide-Angle Camera pesawat ruang angkasa Lunar Prospector NASA juga menemukan bagian bawah kawah Bulan kaya dengan logam, serta menunjukkan lebih banyak besi dan titanium oksida.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini