Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

NASA Sebut Bahan Tambang di Bulan Melimpah


Tim ilmuwan NASA menyatakan logam tambang di permukaan Bulan lebih melimpah dari yang diperkirakan sebelumnya.
Hal ini merupakan temuan para peneliti setelah mereka mendeteksi permukaan Bulan. Instrumen Mini-RF di pengorbit NASA menemukan bahwa semakin besar kawah yang ada di Bulan, semakin besar kemungkinan material tambang yang terkandung di dalamnya.
Hal ini terdeteksi dari transmisi medan listrik atau yang dikenal sebagai "konstanta dielektrik." Para ilmuwan menemukan hubungan langsung antara konstanta itu dan konsentrasi mineral logam.
Diperkirakan konstanta ini terkait dengan kandungan besi dan titanium oksida. Konstanta itu tidak berubah untuk kawah dengan lebar antara tiga dan 12 mil.
Alat Miniature Radio Frequency (Mini-RF) yang mendeteksi permukaan Bulan ini dilekatkan pada pesawat ruang angkasa Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) NASA.
Dalam penelitian yang diterbitkan di Earth and Planetary Science Letters, para ilmuwan berkata meteor mengeluarkan logam dari dalam saat mereka menghantam permukaan bulan, membentuk kawah dalam proses tersebut. Itu berarti akan ada logam dalam jumlah sangat besar yang tersimpan dalam Bulan.
Faktanya juga, semakin rendah kita menggali maka semakin banyak besi dan titanium oksida yang kita temukan.
"Bayangkan mengambil tumpukan logam lima kali lebih besar dari Pulau Besar Hawaii dan menguburnya di bawah tanah," kata Peter B. James, penulis makalah itu.
Dalam laman resmi NASA, para peneliti menggunakan Mini-RF dalam mengukur sifat listrik di dalam tanah bulan yang menumpuk di dasar kawah di belahan utara Bulan.
Sifat listrik itu dikenal sebagai konstanta dielektrik, angka yang membandingkan kemampuan relatif suatu material dan kekosongan ruang untuk mentransmisikan medan listrik, dan dapat membantu menemukan es yang bersembunyi di bayang-bayang kawah.
Untuk kawah yang lebarnya sekitar 1 hingga 3 mil (2 hingga 5 kilometer), konstanta dielektrik material terus meningkat ketika kawah tumbuh lebih besar. Namun, untuk kawah dengan lebar 3 hingga 12 mil (5 hingga 20 kilometer), sifatnya tetap konstan.
Perbandingan gambar Mini-RF dengan peta oksida logam dari LRO Wide-Angle Camera pesawat ruang angkasa Lunar Prospector NASA juga menemukan bagian bawah kawah Bulan kaya dengan logam, serta menunjukkan lebih banyak besi dan titanium oksida.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025