Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Planet Saturnus Berubah Saat Musim Panas

Foto yang diambil oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan perubahan planet Saturnus saat memasuki musim panas.

Foto itu diambil pada 4 Juli 2020 saat ia berjarak dengan Bumi sekitar 1,35 miliar kilometer menggunakan teleskop Hubble. Foto dokumentasi Saturnus merupakan bagian dar program Outer Planets Atmospheres Legacy (OPAL).

Hubble menemukan sejumlah badai atmosfer kecil pada musim panas di Saturnus tahun ini. Namun badai itu tidak bersifat menetap atau sementara.

Dilansir dari Space, tahun lalu, pita warna atmosfer di belahan Bumi utara Saturnus menjadi sedikit lebih memerah sementara belahan selatannya menjadi sedikit lebih biru. 

Atmosfer-atmosfer planet cincin ini memang sebagian besar adalah hidrogen dan helium yang memiliki senyawa amonia, metana, uap air, dan hidrokarbon yang memberikan warna cokelat-kekuningan.

Komposit warna merah yang tertangkap oleh Hubble menurut Peneliti Pusat Penerbangan Antariks Goddard NASA, Amy Simon terjadi karena pemanasan akibat meningkatnya aktivitas matahari.

Lalu aktivitas itu mengubah sirkulasi atmosfer dengan menghilangkan es dari aerosol yang ada di atmosfer.

"Penyebab lain mungkin karena peningkatan sinar matahari pada bulan-bulan saat musim panas mengubah jumlah kabut fotokimia yang dihasilkan," kata Simon dikutip laman resmi NASA

Hasil bidikan Hubble juga memperlihatkan struktur cincin konsentris Saturnus yang sebagian besar terbuat dari potongan-potongan es. Namun, NASA belum bisa memastikan bagaimana dan kapan tepatnya cincin itu terbentuk di Tata Surya.

Kendati demikian, banyak astronom percaya bahwa planet Saturnus berusia lebih dari 4 miliar tahun.

"Pengukuran pesawat ruang angkasa Cassini milik NASA terkait butiran-butiran kecil yang menghujani atmosfer Saturnus menunjukkan cincin itu hanya dapat bertahan selama 300 juta tahun," tutur Astronom NASA sekaligus peneliti dari Universitas California, Michael Wong.

Selain mengidentifikasi perubahan planet Saturnus, teleskop Hubble juga melihat ada dua bulan Saturnus baru yaitu Mimas da Enceladus.

Outer Planetes Atmospheres Legacy (OPAL) merupakan bagian dari program untuk membantu para ilmuwan memahami dinamika atmosfer dan evolusi planet raksasa. Dalam kasus Saturnus, para astronom terus melacak pergeseran pola cuaca dan badai di sana.

Sementara Hubble Space Telescope adalah proyek hasil kerja sama internasional NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dikelola oleh Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025