Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Planet Saturnus Berubah Saat Musim Panas

Foto yang diambil oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan perubahan planet Saturnus saat memasuki musim panas.

Foto itu diambil pada 4 Juli 2020 saat ia berjarak dengan Bumi sekitar 1,35 miliar kilometer menggunakan teleskop Hubble. Foto dokumentasi Saturnus merupakan bagian dar program Outer Planets Atmospheres Legacy (OPAL).

Hubble menemukan sejumlah badai atmosfer kecil pada musim panas di Saturnus tahun ini. Namun badai itu tidak bersifat menetap atau sementara.

Dilansir dari Space, tahun lalu, pita warna atmosfer di belahan Bumi utara Saturnus menjadi sedikit lebih memerah sementara belahan selatannya menjadi sedikit lebih biru. 

Atmosfer-atmosfer planet cincin ini memang sebagian besar adalah hidrogen dan helium yang memiliki senyawa amonia, metana, uap air, dan hidrokarbon yang memberikan warna cokelat-kekuningan.

Komposit warna merah yang tertangkap oleh Hubble menurut Peneliti Pusat Penerbangan Antariks Goddard NASA, Amy Simon terjadi karena pemanasan akibat meningkatnya aktivitas matahari.

Lalu aktivitas itu mengubah sirkulasi atmosfer dengan menghilangkan es dari aerosol yang ada di atmosfer.

"Penyebab lain mungkin karena peningkatan sinar matahari pada bulan-bulan saat musim panas mengubah jumlah kabut fotokimia yang dihasilkan," kata Simon dikutip laman resmi NASA

Hasil bidikan Hubble juga memperlihatkan struktur cincin konsentris Saturnus yang sebagian besar terbuat dari potongan-potongan es. Namun, NASA belum bisa memastikan bagaimana dan kapan tepatnya cincin itu terbentuk di Tata Surya.

Kendati demikian, banyak astronom percaya bahwa planet Saturnus berusia lebih dari 4 miliar tahun.

"Pengukuran pesawat ruang angkasa Cassini milik NASA terkait butiran-butiran kecil yang menghujani atmosfer Saturnus menunjukkan cincin itu hanya dapat bertahan selama 300 juta tahun," tutur Astronom NASA sekaligus peneliti dari Universitas California, Michael Wong.

Selain mengidentifikasi perubahan planet Saturnus, teleskop Hubble juga melihat ada dua bulan Saturnus baru yaitu Mimas da Enceladus.

Outer Planetes Atmospheres Legacy (OPAL) merupakan bagian dari program untuk membantu para ilmuwan memahami dinamika atmosfer dan evolusi planet raksasa. Dalam kasus Saturnus, para astronom terus melacak pergeseran pola cuaca dan badai di sana.

Sementara Hubble Space Telescope adalah proyek hasil kerja sama internasional NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA), yang dikelola oleh Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini