Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

LIPI Ungkap Potensi Semut Api Berbisa Amerika Masuk Indonesia


Pada 19 Juni 2020, masyarakat yang tinggal di sekitar Dermaga Aomi, Tokyo, Jepang dikejutkan dengan munculnya ratusan semut api.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang pun mengkonfirmasi bahwa setidaknya ada 200 semut api yang dinilai sangat berbisa dan berasal dari Amerika Selatan.
Menurut Peneliti Serangga di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rosichon Ubaidillah, ratusan semut api berbisa itu memang bermigrasi melalui barang impor dan merupakan jenis semut api Solenopsis invicta.

"Ya sangat memungkinkan karena melalui barang import dari negara sumber (negara asal semut api). Solenopsis invicta asalnya Amerika Latin (Brazil) dan awal tahun 1930-an ke Amerika Selatan, Meksiko, dan 1940-1950 sampai Amerika dan selanjutnya menyebar ke Asia," jelas Rosichon saat dihubungi
Jumat (26/6).
Menyoal Solenopsis invicta, semut ini berasal dari Amerika Selatan dan telah menjajah setidaknya 13 negara bagian di AS.
Panjangnya kurang dari satu inci dan berwarna merah kecokelatan. Spesies ini umumnya dikenal sebagai semut api merah impor.
Mereka membangun gundukan selebar 18 inci. Gundukan-gundukan ini sering ditemukan di rerumputan atau hamparan taman dan mereka memakan hewan serta beragam buah dan sayuran.
Solenopsis invicta menggunakan racunnya untuk membuat mangsa mereka tak berdaya. Bahkan mereka dapat mengerahkan ratusan anggota untuk membunuh penyu.
Rosichon menilai bahwa mungkin saja semut api itu sudah berada di Indonesia, dilihat dari intensitas pengiriman barang impor dari negara sumber ke Tanah Air.
Namun, ia belum menemukan hasil penelitian lebih lanjut terkait semut tersebut.
"Mungkin sudah, melihat intensifikasi import barang-barang kita sangat tinggi dari negara-negara sumber. Hanya saja hasil penelitian ke semut itu belum saya temukan, mungkin lebih dulu dari jepang," pungkas Rosichon.
Racun semut api adalah campuran dari 46 protein. Pada kebanyakan orang, sengatan hanya menyebabkan iritasi kulit ringan.
Namun, ada pengujian racun semut api baru-baru ini yang menunjukkan bahwa racun itu mempengaruhi sistem saraf. Sebab, tak sedikit orang yang mengeluhkan mengalami gejala halusinasi setelah menerima gigitan semut ini.
Sengatan semut api biasanya dimulai dengan rasa sakit seperti tercubit hingga terbakar. Rasa nyeri tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja.
Sengatan semut itu menghasilkan tanda khusus dari sengatan serangga lainnya yaitu muncul luka melepuh berisi nanah berbentuk bulat mirip jerawat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)