Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

LIPI Ungkap Potensi Semut Api Berbisa Amerika Masuk Indonesia


Pada 19 Juni 2020, masyarakat yang tinggal di sekitar Dermaga Aomi, Tokyo, Jepang dikejutkan dengan munculnya ratusan semut api.
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang pun mengkonfirmasi bahwa setidaknya ada 200 semut api yang dinilai sangat berbisa dan berasal dari Amerika Selatan.
Menurut Peneliti Serangga di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rosichon Ubaidillah, ratusan semut api berbisa itu memang bermigrasi melalui barang impor dan merupakan jenis semut api Solenopsis invicta.

"Ya sangat memungkinkan karena melalui barang import dari negara sumber (negara asal semut api). Solenopsis invicta asalnya Amerika Latin (Brazil) dan awal tahun 1930-an ke Amerika Selatan, Meksiko, dan 1940-1950 sampai Amerika dan selanjutnya menyebar ke Asia," jelas Rosichon saat dihubungi
Jumat (26/6).
Menyoal Solenopsis invicta, semut ini berasal dari Amerika Selatan dan telah menjajah setidaknya 13 negara bagian di AS.
Panjangnya kurang dari satu inci dan berwarna merah kecokelatan. Spesies ini umumnya dikenal sebagai semut api merah impor.
Mereka membangun gundukan selebar 18 inci. Gundukan-gundukan ini sering ditemukan di rerumputan atau hamparan taman dan mereka memakan hewan serta beragam buah dan sayuran.
Solenopsis invicta menggunakan racunnya untuk membuat mangsa mereka tak berdaya. Bahkan mereka dapat mengerahkan ratusan anggota untuk membunuh penyu.
Rosichon menilai bahwa mungkin saja semut api itu sudah berada di Indonesia, dilihat dari intensitas pengiriman barang impor dari negara sumber ke Tanah Air.
Namun, ia belum menemukan hasil penelitian lebih lanjut terkait semut tersebut.
"Mungkin sudah, melihat intensifikasi import barang-barang kita sangat tinggi dari negara-negara sumber. Hanya saja hasil penelitian ke semut itu belum saya temukan, mungkin lebih dulu dari jepang," pungkas Rosichon.
Racun semut api adalah campuran dari 46 protein. Pada kebanyakan orang, sengatan hanya menyebabkan iritasi kulit ringan.
Namun, ada pengujian racun semut api baru-baru ini yang menunjukkan bahwa racun itu mempengaruhi sistem saraf. Sebab, tak sedikit orang yang mengeluhkan mengalami gejala halusinasi setelah menerima gigitan semut ini.
Sengatan semut api biasanya dimulai dengan rasa sakit seperti tercubit hingga terbakar. Rasa nyeri tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja.
Sengatan semut itu menghasilkan tanda khusus dari sengatan serangga lainnya yaitu muncul luka melepuh berisi nanah berbentuk bulat mirip jerawat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025