Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Ngunyah Permen Karet dalam Upaya Berhenti Merokok, Seberapa Efektif?


Mengunyah permen karet telah lama dianggap bisa membantu berhenti merokok. Hal tersebut lantaran mulut tidak lagi terasa begitu asam dan keinginan untuk merokok bisa berkurang perlahan.

Namun, benarkah mengunyah permen karet bisa membantu untuk menghentikan kebiasaan merokok? Serta, seberapa efektifkah upaya satu ini?

Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), Dr dr Erlina Burhan, MSc, SpP(K) mengungkapkan bahwa upaya untuk berhenti merokok sebenarnya dapat dilakukan lewat banyak hal.

"Upaya berhenti merokok itu banyak, bukan hanya makan permen. Tapi yang utama adalah niat," ujar Erlina dalam media briefing bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ditulis Rabu, (18/1/2023).

"Contohnya gini, kalau orang di bulan Ramadan, yang kebetulan berpuasa itu sanggup lho enggak merokok dari subuh sampai maghrib. Itu karena ada niatnya. Jadi saya kira kalau berhenti merokok itu di awal pertama adalah niat, baru dibantu dengan cara-cara lain seperti lagi kepingin merokok diganti permen," tambahnya.

Erlina menjelaskan, berhenti merokok memang akan mendatangkan withdrawal syndrome. Efek satu ini merupakan reaksi yang biasanya muncul saat seseorang menghentikan asupan zat tertentu.

"Kalau kita berhenti merokok ada istilahnya withdrawal syndrome. Jadi kalau di narkoba itu ada situasi kondisi sakau. Nah sebetulnya pada orang yang berhenti merokok, ada gejala-gejala atau symptoms putus rokok," kata Erlina.

Saat mengalami withdrawal syndrome, seseorang yang tengah berhenti merokok bisa merasa tidak konsentrasi, mudah emosi, dan sulit tidur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025