Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Sumber Tani Agung (STAA) Catat Laba Bersih Rp 3,58 Triliun per Semester I 2025

 

PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) mencatatkan pertumbuhan kinerja per semester I 2025.

Melansir keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), STAA mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 3,58 triliun per 30 Juni 2025.

Raihan itu naik 33,22% dari penjualan neto di akhir Juni 2024 yang sebesar Rp 2,69 triliun.

Dari jenis produk, penjualan itu mayoritas berasal dari produk minyak sawit sebesar Rp 2,42 triliun. Diikuti oleh produk minyak inti sawit Rp 766,54 miliar dan produk inti sawit Rp 201,09 miliar. 

Dari pasar geografis pihak ketiga, STAA melakukan penjualan ke pasar lokal sebesar Rp 3,50 triliun dan ekspor Rp 84,63 miliar.

Beban pokok penjualan ikut naik menjadi Rp 2,41 triliun per semester I 2025, dari sebelumnya Rp 1,89 triliun di periode sama tahun lalu.

Laba bruto tercatat tetap naik 45,77% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi Rp 1,17 triliun per akhir Juni 2025, dari Rp 804,41 miliar di akhir Juni 2024.

STAA pun mengakumulasikan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih sebesar Rp 656,72 miliar per semester I 2025. Ini naik 55,15% yoy dari Rp 485,54 miliar per semester I 2024.

Laba per saham dasar STAA pun menjadi Rp 60 di akhir Juni 2025, naik dari Rp 39 pada periode sama tahun lalu.

Per 30 Juni 2025, STAA punya total aset Rp 8,35 triliun. Ini naik dari Rp 8,08 triliun per 31 Desember 2024.

Total liabilitas perseroan sebesar Rp 2,39 triliun di akhir Juni 2025, naik dari Rp 2,18 triliun di akhir Desember 2024. Sementara, total ekuitas tercatat Rp 5,95 triliun di semester I 2025, naik dari Rp 5,89 triliun di akhir tahun 2024.

STAA memiliki kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 999,70 miliar di akhir Juni 2025, naik dari Rp 782,72 miliar di periode sama tahun lalu.

s

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini