Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Reksadana Baru Besutan BRI-MI Ini Tawarkan Diversifikasi Investasi Berbasis Dolar AS

 

Di tengah gejolak ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, kebutuhan akan diversifikasi aset berbasis mata uang asing makin meningkat.

Instrumen berdenominasi dolar Amerika Serikat (USD) pun kian diminati sebagai upaya menjaga stabilitas nilai portofolio.

Permintaan terhadap reksadana pasar uang berbasis dolar melonjak signifikan. Berdasarkan data Infovesta, dana kelolaan reksadana pasar uang USD di Indonesia mencapai US$199 juta pada kuartal I-2025, tumbuh 73,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menjawab tren tersebut, PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) menghadirkan produk baru bertajuk BRI Seruni Likuid Dolar (BSLD), yakni reksadana pasar uang berdenominasi USD yang menyasar investor ritel maupun institusi.

Direktur Utama BRI-MI, Tina Meilina, mengatakan peluncuran BSLD merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menyediakan solusi investasi yang relevan dengan kondisi pasar saat ini.

“Dolar masih menjadi mata uang dominan dalam transaksi global sekaligus instrumen lindung nilai yang efektif. BSLD dikembangkan dengan tata kelola yang kuat dan dukungan Bank DBS Indonesia sebagai bank kustodian untuk menjamin keamanan dan transparansi bagi investor,” ujarnya melalui keterangan resmi, Rabu (30/7/2025).

Situasi suku bunga acuan The Fed yang masih bertahan di kisaran 4,25%–4,50% turut mendorong daya tarik aset berdenominasi dolar.

Banyak investor mulai mengalihkan sebagian dananya ke instrumen USD, baik untuk kebutuhan transaksi internasional maupun sebagai langkah mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar dan inflasi.

Produk BSLD dirancang khusus bagi investor yang mengutamakan likuiditas tinggi dan kestabilan nilai aset.

Dana investasi dialokasikan ke instrumen pasar uang dan surat utang jangka pendek dalam denominasi USD, dengan kualitas tinggi dan jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Strategi ini memberikan peluang imbal hasil yang kompetitif dengan profil risiko rendah, cocok untuk investor yang ingin menjaga fleksibilitas dalam pengelolaan portofolio dolar mereka.

Saat ini, produk BSLD sudah tersedia melalui BRI Manajemen Investasi dan akan segera dapat diakses melalui sejumlah agen penjual reksadana (APERD) mitra BRI-MI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)