Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

IPOT Rekomendasikan INCO, TOBA, WIFI dan FR0101 untuk Trading Pekan Ini

 

Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi merekomendasikan, tiga saham dan satu obligasi untuk strategi trading selama sepekan ke depan, yakni pada periode 7–11 Juli 2025.

Menurut Imam, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen kunci baik dari global maupun domestik yang akan memengaruhi arah pasar.

Sentimen Global: CPI China

Dari sisi global, perhatian tertuju pada data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) China.

Imam menilai, perkembangan inflasi China penting untuk mengukur prospek ekonomi Indonesia ke depan, mengingat posisi China sebagai mitra dagang utama Indonesia.

“Dengan meredanya ketegangan antara AS dan China, ada peluang meningkatnya daya beli di China yang bisa mendorong inflasi keluar dari zona deflasi,” jelas Imam dalam analisis tertulis yang diterima Kontan.co.id, Senin (7/7).

Sentimen Domestik: Konsumen dan Otomotif

Dari dalam negeri, terdapat tiga indikator utama yang patut dicermati:

1. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)

IKK menjadi leading indicator bagi arah konsumsi rumah tangga, komponen terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Proyeksi menunjukkan indeks akan bertahan di zona optimistis, yakni di level 123.

2. Penjualan Ritel (Retail Sales)

Data ini mencerminkan tingkat kepercayaan konsumen dalam membelanjakan uang. Kenaikan penjualan ritel biasanya berkorelasi dengan pertumbuhan pendapatan dan inflasi yang terkendali.

3. Penjualan Mobil dan Motor

Data penjualan kendaraan mencerminkan keyakinan kelas menengah terhadap prospek ekonomi. Berbeda dengan barang konsumsi harian, pembelian kendaraan adalah keputusan jangka panjang yang mencerminkan stabilitas finansial konsumen.

Rekomendasi Saham dan Obligasi

Dengan mempertimbangkan tren harga komoditas, transisi energi, serta percepatan digitalisasi nasional, berikut adalah rekomendasi IPOT:

1. INCO – Buy (Entry: Rp3.560, Target: Rp3.750, Stop Loss: <="" p="">

Permintaan global terhadap nikel diperkirakan meningkat seiring akselerasi produksi kendaraan listrik (EV), di mana nikel menjadi komponen utama baterai lithium-ion. INCO memiliki cadangan besar dan rekam jejak produksi yang kuat. Dukungan pemerintah terhadap hilirisasi juga menjadi katalis positif.

2. TOBA – Buy on Breakout (Entry: Rp825, Target: Rp875, Stop Loss: <="" p="">

TOBA mendapat sentimen positif karena strateginya mendiversifikasi bisnis menuju energi hijau, sejalan dengan tren global dekarbonisasi dan transisi energi, di tengah harga batu bara yang berfluktuasi.

3. WIFI – Buy on Breakout (Entry: Rp2.020, Target: Rp2.120, Stop Loss: <="" p="">

WIFI diuntungkan oleh tren digitalisasi nasional dan perluasan akses internet ke luar Jawa. Dukungan pemerintah melalui pembangunan BTS 4G dan jaringan serat optik nasional membuka peluang besar bagi pemain infrastruktur digital.

4. Obligasi FR0101 – Buy via IPOT Bond

Data ketenagakerjaan AS yang solid mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat. Untuk itu, IPOT menyarankan strategi defensif melalui obligasi tenor pendek dan korporasi yang stabil, seperti FR0101 yang memiliki kupon 6,875%, yield 6,20%, dan jatuh tempo pada 15 April 2029.

“Meski potensi pemangkasan suku bunga The Fed hingga akhir tahun masih terbuka sebesar 50 basis poin (bps), volatilitas jangka pendek tetap tinggi. Oleh karena itu, FR0101 menjadi pilihan defensif yang menarik saat ini,” pungkas Imam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025