Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Saham Blue Chip Melemah Semester I 2025, Mana yang Layak Beli Di Semester II?

 

Harga saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) banyak turun pada semester 1 tahun 2025. Untuk semester 2 tahun 2025, saham blue chip apa yang memiliki prospek cerah sebagai sarana investasi?

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di pasar modal. Saham blue chip biasanya berasal dari perusahaan dengan fundamental yang kuat dan kinerja keuangan bagus serta memiliki kapitalisasi pasar besar mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota Indeks LQ45. Indeks LQ45 berisi 45 saham paling likuid.

Indeks LQ45 tertekan sepanjang semester I-2025. Bahkan, kinerja indeks kumpulan saham paling likuid ini lebih buruk dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Hingga akhir perdagangan Senin (30/6), indeks LQ45 anjlok 6,53% secara year to date. Sementara itu, IHSG hanya melemah 2,15% di selama paruh pertama 2025 ini. 

Berdasarkan data Bloomberg, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemberat indeks LQ45. Sepanjang tahun ini, BBCA sudah terkoreksi 7,58% dan menekan indeks LQ45 sebesar 9,32 poin. 

Kemudian ada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang sudah menekan indeks LQ45 sebesar 4,95 poin. Lalu ada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menggerus sebesar 4,67 poin. 

Tekanan juga datang dari saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebesar 3,66 poin, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 3,20 poin dan PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar 2,46 poin.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan anjloknya indeks LQ45 sejalan dengan pergerakan IHSG karena kinerja sektor keuangan yang mengecewakan. 

Hal itu tercermin dari perlambatan penyaluran kredit. Pasalnya, saham-saham di sektor keuangan khususnya perbankan menjadi motor penggerak indeks baik IHSG maupun LQ45. 

“Selain itu, emiten big caps berbasis komoditas juga tertekan oleh harga saham komoditas yang sangat fluktuatif akibat sentimen marko dan global,” jelas Nafan kepada Kontan, Senin (30/6). 

Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menambahkan, tekanan pada indeks LQ45 juga dipengaruhi oleh aksi jual beli atau net sell investor asing. 

Selain itu, lanjut Miftahul, sentimen global juga belum banyak memberi katalis untuk risk-on strategy, sehingga indeks LQ45 masih cenderung sideways bahkan terkoreksi hingga akhir semester I-2025. 

Namun memasuki paruh kedua ini, Miftahul melihat prospek atas saham-saham di indeks LQ45 sedikit lebih cerah. Ini dipengaruhi oleh beberapa sentimen positif. 

“Dimana pemerintah mulai menggulirkan stimulus fiskal, ekspektasi pemangkasan suku bunga makin kuat, dan dividen interim dari beberapa emiten berpotensi jadi katalis positif,” ucap dia. 

Rekomendasi saham blue chip

Miftahul memproyeksikan saham-saham seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), serta PT Jasa Marga Tbk (JSMR) akan punya potensi mengangkat indeks, terutama karena ditopang oleh narasi energi, emas, ekonomi syariah dan infrastruktur.

“Sementara itu, tekanan mungkin masih terasa pada saham-saham bank jumbo jika kondisi global masih terdapat ketidakpastian,” jelasnya. 

Setali tiga uang, Nafan memproyeksikan kinerja indeks LQ45 berpotensi lebih positif di semester dua nanti. Ini sejalan dengan potensi terjadinya penurunan suku bunga oleh bank sentral. 

Kemudian membaiknya hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah mitra seperti Jepang, Eropa dan Korea Selatan. Diharapkan kesepakatan juga terjadi dengan mitra lainnya. 

Untuk semester dua ini, saham pilihan Nafan jatuh pada BBCA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), BBRI, BMRI, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Indosat Tbk (ISAT), JSMR, PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Sementara, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy saham ANTM dengan target di Rp 3.120 dan trading buy BRIS di Rp 2.700. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini